Wisata Taman Baca di Pujon dan Malang dg rekan Insan Baca 23/01/12

Sapi perah di Pujon

Sarapan bersama

 

Jalan-jalan dan agenda evaluasi Insan Baca (komunitas) yang diadakan di Pujon membawa banyak pelajaran, serta suntikan semangat bagi saya. Saya melihat perjuangan yang luar biasa saat berkunjung ke Taman Baca Balai Gunung Kawitan di Pujon.  Seorang aktivis di tempat tersebut, yang di kenal dengan cak Ali, atau dulu disebut dengan cak Gimbal, mampu bertahan dengan pendirian yang teguh mengenai bagaimana pentingnya budaya membaca bagi anak-anak serta pelestarian lingkungan sekitar, padahal berbagai penolakan bahkan tidak sedikit cercaan dari masyarakat telah diterimanya. Dengan perjuangan yang gigih, beliau mampu mendirikan komunitas yang sampai hari ini konsisten terhadap pelestarian lingkungan di daerah Pujon tersebut, bahkan di rumah nya dapat saya lihat langsung banyaknya tanaman yang dipelihara, dengan pembibitan dan penataan yang sungguh rapi. Ternyata Tuhan memberikan keahlian khusus bagi beliau dalam hal seni, dan beliau menyadari kemampuan tersebut sehingga hasilnya dapat dilihat, berupa lukisan, patung, bahkan desain sebuah taman. Untuk kemampuan yang terakhir tersebut, seringkali beliau memanfaatkan untuk melobi aparatur desa maupun petugas Perhutani agar perjuangannya mendapat dukungan, dengan jalan membantu merancang serta membangun langsung taman rumah pejabat setempat. 

Sejak mendapatkan bantuan buku dari Kompas Gramedia, yang difasilitasi salah seorang rekan saya, Prita, koleksi taman bacanya pun menjadi banyak , tapi ternyata hal ini tidak menambah daya tarik bagi anak-anak di kampung setempat, hal inilah yang menjadi ujian berat bagi Cak Ali, bagaimana agar anak-anak tersebut aktif membaca serta meminjam koleksi bukunya. Beberapa solusi dari saya dan rekan-rekan Insan Baca di sharingkan, agar menemui jalan terang untuk masa depan taman baca di tempat tersebut.

Selain itu, cak Ali juga, akhirnya dipercaya pihak Perhutani untuk mengelola beberapa lahan dengan sistem bagi hasil dengan warga yang menggarap, dimana lahan tersebut ditanami kopi, untuk yang satu ini berhasil karena keinginan cak Ali untuk memberdayakan warga serta memberikan penghasilan kepada warga dari perkebunan terwujud, karena jika tidak begitu, maka pihak pengelola akan tergoda untuk mendapatkan dana yang berasal dari para investor yang ingin membangun kawasan wisata atau hunian, yang tentunya akan mengakibatkan lahan terbuka dengan pohon-pohon yang ditebang.

Bukan hanya semangat cak Ali yang luar biasa, tetapi Gus Udin juga. Beliau adalah tokoh spiritual di Batu, namanya banyak dikenal orang, hal ini dikarenakan beliau banyak membantu masyarakat Batu yang terkena gusuran pengembangan alun-alun serta pasar Batu, tidak hanya itu, beliau sudah banyak memberikan waqaf atas tanah nya untuk didirikan masjid maupun penggunaan lahan untuk ditanami pohon dalam kerangka penghijauan, hal ini penting karena kawasan Batu juga sedang kritis, bagaimana tidak, banyak pembukaan lahan baru yang kebanyakan tujuan nya untuk pembangunan hotel atau sekedar villa, hal inilah yang mengurangi keseimbangan antara program penghijauan dengan pengembangan pariwisata yang menjadi andalan kota Batu. Melalui Komunitas Merah Putih, hingga hari ini Gus Udin masih berjuang agar Batu tetap lestari dengan semangat doa dan pengorbanan waktu, materi serta keluarga.

 

Dari rumah Gus Udin yang berlokasi di Srebet, naik lagi sekitar 2 Km, masih di daerah Pasanggrahan, lebih tepatnya Desa Toyomerto, saya dan teman-teman mengunjungi sebuah mushola yang dijadikan Taman Baca juga, kami bertemu dengan Pak Zakaria (Bang Jack) sebagai pengelola. Mushola yang luar biasa, walaupun lokasinya di kaki gunung Panderman, tapi minat baca anak-anak sungguh luar biasa, hal ini kami lihat dari buku aktivitas peminjaman buku yang terisi banyak serta update hingga seminggu yang lalu. Tidak hanya itu,di mushola ini terdapat pula koleksi angklung yang digunakan bagi anak-anak untuk latihan music, jadi semacam ekstrakurikuler, bisa saya simpulkan bahwa mushola ini layak di labeli “tempat sembahyang multifungsi” J. Oh ya,  pak Jack yang juga pengelola, ternyata juga menajdi penggerak adanya penggunaan biogas yang didapatkan dari kotoran sapi, di belakang rumahnya juga terdapat instalasi biogas, yang sayang tidak beroperasi sementara karena rusak, dan yang masih difungsikan adalah instalasi induk milik bersama warga desa.

 

TBM @ Toyomerto

Tempat terakhir yang sekali lagi, saya kagumi adalah perpustakaan taman aksara, yang didirikan alumni Unibraw, yang juga penerima beswan Djarum, namanya Thantien Hidayati. Dengan adanya kemampuan yang dimilki, baik dari segi jaringan, pengalaman kuliah bahkan banyak prestasi karya tulis maupun penelitian yang ditorehkan, terutama di level nasional dia mampu menunjukkan bahwa aktivitas literasi dapat dikembangkan secara luas. Dengan dibantu beberapa rekannya, setap hari di perpustakaan miliknya, diadakan berbagia aktivitas untuk anak-anak yang tinggal di daerah Jl. Negara, Malang, dan bahkan ada dari simpang sulfat yang ikut program pendidikan yang diberikan di tempat tersebut. Bentuk pendidikan yang diberikan berbeda dengan bentuk formal di sekolah, di tempat tersebut, anak-anak dirangsang aktif untuk bermain, belajar, praktek, dll, yang pasti, anak-anak tersebut diberikan keleluasaan untuk memilih apa yang disenanginya untuk dipelajari lebih banyak, entah musik, seni, agama ataupun yang lain. Koleksi buku, alat peraga serta program reward yang bagus, membuat tempat tersebut juga mendapatkan beberapa penghargaan, dan juga menjadi berita di salah satu media besar di Malang. Semangat dan kemauan yang kuat, ternyata di dukung oleh orang tuanya, yang ternyata juga penggerak ibu-ibu warga di tempat tersebut , tapi di bidang lain, yaitu membuat kerajinan daur ulang dari bahan-bahan bekas sampah rumah tangga. Seringkali pameran maupun diundang kelompok lain untuk memberikan pelatihan.

 

Luar biasa menurut saya mereka semua, jadi inget kata-kata ini “the greatest pleasure in the world is doing something that people say you can’t do” he he…

 

Diskusi ringan bersama Thantien (AKSARA)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads