istirahat dulu ah
turun dari puncak

Pembicaraan dengan mas Paulus sudah dilakukan, sekarang waktunya pelaksanaan. Yup, rencana untuk mengisi liburan untuk naik ke gunung Lawu akhirnya menjadi kenyataan. Mas Paulus yang kebetulan sedang libur kerja pada saat peringatan maulid nabi Muhammad SAW mengajak teman-teman Wanala yg mau, untuk menemani naik Lawu, sekalian merayakan ulang tahunnya. Kami sepakat untuk 3 hari di Lawu.

26 Februari 2010

Setelah semua sudah siap dan barang –barang terpacking dengan rapi, kami berangkat ke Gayungan, rumah mas Paulus dengan menggunakan sepeda motor, kebetulan aku berboncengan dengan Saras waktu itu. Sebelumnya Yasak dan Debby mampir dulu ke Bobo untuk mengambil sepatu. Wah ternyata sedang macet di jalanan, sangat parah, karena kebetulan orang–orang sedang pulang kerja dan besok liburan, saat itu jam menunjukkan pukul 16.00. semapat gerimis juga menemani saat masuk dekat IAIN, tapi kami langsung tancap gas tanpa berhenti, tanpa pakai jas hujan, nanggung…hehe..

Sesampainya di gayungan kami makan dulu, dengan menu ayam manis yang muantap rasanya. Setelah itu, aku, Danti, Udin, Yasak, Saras, Vandra berkemas menuju ke terminal Bungurasih degan di antar mas Hendi, sedangkan Debby dan Candra menemani mas Paulus dan istri di dalam mobil, tentunya juga dengan anak kesayangannya. Malah lebih parah kali ini, jalanan keluar dari bunderan Waru, macetnya gak ketulungan, disertai gerimis yang turun saat itu. Kami sampai di terminal 30 menit kemudian.

Sampai di dalam terminal, kami langsung memilih bus, kebanyakan sudah terisi penuh, akhirnya kami memutuskan naik bus Mira. Ya bisa ditebak, kami berdiri mulai dari Surabaya sampai Jombang nantinya, ditambah lagi jalanan yang macet dan hujan yang deras sebelum memasuki Krian. Karena penumpang sangat penuh, jendela tertutup untuk menghindrari cipratan air hujan dari luar, yah konsekuensi nya keringat bercucuran karena sangaat panas nya kondisi di dalam bus.

Tiba di stasiun Jombang, kami sudah ditunggu mas Paulus, Debby dan Candra di dalam mobil. Menuju ke Magetan kami menyempatkan makan malam di sebuah restoran sederhana di jombang.

Kendali sopir ada di tangan Candra, dengan mendengarakam dentuman musik yang kencang, kami terus mengobrol di dalam mobil. Lagu bon jovi mengiringi.

Masuk magetan, giliran mas Paulus yang menyetir, kami juga menyempatkan belanja sayur di sebuah pasar. Perjalanaan malam itu sangat nyaman, karena jalanan sangat sepi, maklum sudah larut malam.

Jam menunjukkan 01.00

Kami menginap di dekat pos Cemoro Sewu, Aku, Vandra, Candra, Saras, Debby dan Danti tidur di mushola An Nur yang ada di seberang jalan, sedangkan Yasak dan mas Paulus tidur di dalam mobil, kami bertujuh tidur di dalam, yah karena lelah dan kantuk yang amat sangat, kami pun tertidur lelap, suhu sangat dingin, jadi walaupun di dalam ruangan kami tetap menggunakan sleeping bag….zzz…..zzz……

Keesokan harinya (27 Februari 2010)

Kami bangun tepat pukul 07.00, kami pun juga tidak tahu, tadi subuh ada orang sholat atau nggak ..hehe…

Kami langsung masak buat sarapan pagi ini, menu pertama kita masak ini adalah sop, sosis, telur, krupuk, dan juga tambahan amunisi dari mas Paulus yang habis dari pasar, sate ayam dan pisang. Sarapan yang mengenyangkan tentunya kali ini, setelah piring dibersihkan kami pun berkemas untuk mulai naik dari pos Cemoro Sewu, perijinan pun kami selesaikan juga di pos.

Cemoro Sewu berada di ketinggian 1914 mdpl. Pos ini berada di dekat jalan raya utama penghubung Magetan dengan Solo, terdapat banyak warung serta tempat yang disewakan untuk penginapan, pos perijinan juga terlihat terawat dengan baik, terbuat dari batu kali yang tersusun rapi, mungkin karena baru saja dibangun.

benerin tas nya, biar enak dibuat jalan

Sebelum berangkat kita berdoa terlebih dahulu, dipimpin mas Paulus. Habis berdoa, masing-masing orang mengangkat tas masing-masing, tapi ternyata eh ternyata, carrier bawaan Debby jahitannya ada yang mau lepas, ya akhirnya barang-barang dikeluarkan dan dipindah ke daypack aja, lha wong padahal isinya dikit aja pake gaya bawa carrier, ini akibatnya kalau sebelum berangkat gak mengecek barang yang akan dipakainya, walaupun terburu-buru, harusnya di cek dulu.

Jam sudah menunjukkan 11.05 saat kita mulai jalan, batuan tetata rapi di awal perjalanan, belum seberapa menanjak, jadi kami melewatinya dengan mudah. Cuaca saat itu berkabut serta ditutupi mendung tebal, sepertinya akan turun hujan nih….pemandangan sepanjang jalan ini didominasi dengan hutan yang tidak terlalu lebat, cemara mendominasi. Dengan jalan setapak yang sudah tertata dari batu dan cukup lebar seperti ini kami tidak perlu lagi untuk bersusah-susah mencari jalur pendakian, sempat juga kami melewati ladang penduduk yang ditanami sayur dan buah-buahan, gerimis pun mulai datang. Kami berjalan cukup lama dan jarang berhenti memang.

Hujan yang sangat deras datang setelah kami melewati pondokan ke 3 yang kami lihat mulai dari bawah tadi, kami sudah melewati ketinggian 2240 mdpl dari pondok tersebut, di barisan depan ada Aku, Debby, Danti, Saras, karena aku harus mengambil foto cewek ini karena tadi udah ambil banyak foto yang cowok. Sekitar  20 menit kami jalan, kami istirahat untuk menunggu rombongan yang di belakang. Hujan semakin deras, membuat keadaan semakin dingin, walaupun kami sudah mengunakan raincoat. Pada saat kami jalan, kami juga bertemu sekitar 5 kelompok lain yang turun dari puncak, ternyata di atas memanng ramai orang naik, maklum liburan, jadi banyak anak sekolah, kuliah atau bahkan kerja yang mampir. Jalanan beberapa kali naik turun, tanjakan juga mulai agak curam, tapi suguhan pemandangan saat kami sudah melewati pepohonan  yang tinggi membuat kami terkesima, dengan adanya guyuran hujan, membuat bunga-bunga dan daun- daun maupun pemandangan di bawah sana menjadi semakin hidup. Jalur berbatuan terus menemani …….

Kami tiba di camp seitar pukul 14.30, kami segera mendirikan tenda di dalam pundokoan yang dibuat secara permanen dari semen, cukup nyaman jadinya. Rasa lapar kami obati dengan makan sedikit roti jatah makan siang serta sisa lontong tadi pagi yang beli sama sate ayam, sebagai rasa tambahan kami masak sardines sebagai pelengkap. Setelah kami menikmati makanan tersebut, kami lanjutkan dengan ngobrol santai di depan tebing, ada shelter lumayan besar memang, sepertinya bekas pondokan juga disini, letaknya berada di kanan jalan setapak.

camp 1 tempat bermalam

Setelah itu, kami masak lagi untuk makan malam, jam menunjukkan 18.00, di sela-sela kami masak saya sempatkan juga untuk menikmati indahnya sunset yang disajikan alam dengan keremangan senja yang hadir saat itu, karena gelap malam mulai datang menghampiri, tidak lupa diabadikan dengan foto juga.

Menu Makan malam saat itu terdiri dari telur, kornet, tumis sawi, sosis dan ditemani minuman kopi dan teh hangat. Kami tidur jam 21.00

28 Februari 2010

Pagi yang masih dingin, kami rasakan saat bangun tidur dari istirahat yang cukup nyenyak, jam 04.30, jadi masih gelap keadaan sekitar, Aku, Debby dan Danti langsung masak untuk sarapan nanti, terlihat juga 2 tenda yang ngecamp dekat kita, mungkin datangnya tadi malam. Makan pagi ini ditemani dengan menu sayur lodeh, nugget dan krupuk…ehm..nikmat sekali pokoknya…

Setelah makan, kami langsung memacking barang-barang kami untuk melanjutkan perjalanan, jam menunjukkan pukul 07.45, perjalanan segera dimulai. Jalur bebatuan masih menemani, tapi kali ini tanjakan mulai agak berat, kami bertemu juga rombongan bapak-bapak yang berasal dari Demak. Menariknya, jalanan menuju puncak ini banyak dipasangi pipa-pipa pembatas jalan setapak di kanan kiri, hal ini membuat bukti perawatan kawasan ini semakin terlihat, sampah-sampah tidak terlalu terlihat disini, hanya di pos yang sampahnya sangat banyak, hal ini membuat kesan kotor dan mengurangi kenyamana kami saat beristirahat. Pemandangan kota di bawah serta lukian langit yang biru menambah ketertarikan kami pada perjalanan kali ini. Tebing-tebing yang ada di sebelah kanan jalan menambah indahnya sajian alam, tanaman dengan batang yang tidak terlalu besar dan daun daun kecil dominan tumbuh di ketinggian yang sudah mendekati 3000 mdpl ini.

Tiba di sebuah warung pada pukul 10.50, ada Sendang Drajat, tempat mengambil air yang paling dekat dengan pos Hargo Dalem, tempat ini dikeramatkan karena pada zaman kerajaan Brawijaya digunakan untuk semedi, sekarang terkenal dengan kepercayaan, bahwa barang siapa yang mandi sebanyak 7 kali bilasan, bisa memabuat awet muda, yang percaya ya monggo, kalo nggak ya sudah, gak usah diprotes,…

di Sendang Drajat

Kita harus menghormati apa yang diyakini oleh khalayak umum dan sudah berjalan lama tersebut. Di sini kita makan mie dan tempe goreng yang dijual oleh Mbok To, terdapat pula kamar mandi yang tanpa atap, terdapat warung lain pula, tapi saat kami kesana tutup. Saat kami beristirahat sekitar 1,5 jam, kami bertemu dengan rekan-rekan dari Mahipa Unmuh Ponorogo serta Himalaya Stain Tulungagung yang sedang melakukan kegiatan pendidikan lanjutan untuk anggota muda nya. Mereka dari puncak, dan rencananaya siang itu juga akan turun ke pos Cemoro Sewu. Suasana berkabut masih menyelimuti.

Oh ya, sekitar 15 menit sebelum sampai di Sendang Drajat ini suguhan pemandangan sangat indah, bahkan bisa dikatakan cukup spesial, ornamen kabut yang ada, hamparan sabana serta edelweiss terlihat indah, membuat kami betah untuk menikmatinya, sambil istirahat tentunya.

Sebelum mencapai Hargo Dumilah, banyak kami lihat bangunan yang menyerupai pendopo, yang konon digunakan untuk persinggahan para pertapa di gunung tersebut. Dengan selimut kabut tipis yang menyelimuti, pemandangan disini tampak anggun, karena samar-samar terlihat edelweiss dan tumbuhan berdaun jarum berwarna merah yang mendominasi. Kita mendirikan tenda tepat di sebelah kanan warung Mbok Yem, sempat gerimis saat mendirikan tenda, tapi untungnya tidak terlalu deras, sehingga aktifitas kami mulai dari memasak, ganti pakaian dan sekedar ngopi di Mbok Yem tidak terlalu terganggu.

Sekitar 20 menit kemudian, kami segera mempersiapkan diri untuk menuju ke puncak Hargo Dumilah di ketinggian 3265 mdpl. Kami berjalan perlahan besama-sama dengan bekal makanan siang berupa roti, softdrink, coklat, kacang, dan lain-lain untuk kami nikmati setibanya di puncak nantinya. Perjalanan tidak terlalu berat, karena barang-barang kami tinggalkan di tenda. Kami semakin bersemangat untuk menuju puncak lawu ini karena didukung juga dengan sangat cerah nya langit siang ini, sehingga hamparan langit biru dan awan yang seputih kapas membuat perjalanan semakin mengasyikkan, kami berjaln sangat santai dan pelan-pelan, sambil sesekali berhenti untuk mengambil nafas, ya memang harus dinikmati dengan benar-benar pemandangan indah ini. Kalau jalan terburu-buru, pasti gak ayik,..

Kira-kira 1,5 jam kami tempuh untuk tiba di puncak, mungkin kalau mau jalan lebih cepat, 20 menit pun bisa sampai sebenarnya, di atas puncak kami langsung berfoto-foto serta menikmati panorama menakjubkan dari atas sini. Di titik ini terdapat semacam tugu yang berfungsi sebagai penanda dari titik tertinggi dari Gunung Lawu, bangunannya terlihat baru dan terawat, dalam artian belum banyak coretan vandal yang menghiasi. Disini kami bersantai selama kurang lebih 1 jam, sambil menikmati makanan dan minuman yang kami bawa.

Bersantai di puncak

Setelah berfoto-foto lagi, kami pun langsung turun menuju camp terakhir di dekat Mbok Yem. Perjalanan turun dicapai selama 25 menit, betapa indahnya hamparan sabana dan puncak-puncak kecil lainnya yang mengelilingi puncak Hargo Dumilah ini, sangat mempesona,….

Jam menunjukkan pukul 15.15 saat kami berada di camp lagi, berarti waktunya masak sore yang terdiri dari  opor, kare, kornet, telur dan krupuk serta tidak lupa minum jahe yang kami beli dari warung Mbok To. Saat kami menikmati makan di saat petang datang, Yasak dan Debby memutuskan untuk naik lagi ke puncak untuk menikmati sunset dari puncak, wah semangat sekali mereka, aku aja males…hehe….tapi, sebelum berangkat mereka juga makan dulu untuk isi perut serta membawa beberapa perlengkapan standar untuk ke puncak.

Di sela-sela kami menunggu masakan matang, saya sempat kan juga untuk mengajak teman-teman di dalam tenda untuk bermain (permainan kata-kata), yah sekedar unuk mengisi sore yang sepi, agar tidak mengantuk.

Hari itu kami semua tidur pukul 19.30

28 Februari 2010

Sunrise kami saksikan bersama-sama pada pukul 05.00, seperti biasa, yang paling duluan bangun ya Mas Paulus, kecuali Candra, Vandra dan Yasak yang terlihat masih menikmati kehangatan bersama sleeping bag nya di dalam tenda.

Masak pagi ini kami isi dengan menu nasi goreng, ikan teri, kornet dan nugget. Habis makan, kami langsung packing untuk turun memalui jalur cemoro kandang. Setelah berpamitan di mbok Yem serta beberapa pendaki yang kebetulan menginap di dalam warung Mbok Yem, kami bergegas untuk mulai berjalan.

Jalan setapak disini banyak persimpangan, tanpa buka peta dan cek GPS, kami jalan mengikuti petunjuk orang yang berjalan dari arah puncak, perjalanan melewati sabana luas dan indah, serta naik ke puncak yang terdapat menara tinggi yang terlihat dari kejauhan. Disini juga saya berjalan agak jauhan dari teman-teman, karena ingin mengambil gambar dengan view yang agak luas.

Tiba di puncak yang terdapat menara, kami berjalan turun, sekitar 10 menit kami berjalan, kami sadar kalau jalan yang kami ambil sepertinya salah, kami buka peta dan cek di GPS, memang benar kami berada di jalur yang salah untuk menuju ke Cemoro Kandang, kami akhirnya memutuskan turun terus untuk menuju saddle yang ada dihadapan kami, selanjutnya kami berjalan ke arah timur untuk pindah punggungan dengan asumsi akan menemukan jalur normal kembali. Perjalanan untuk pindah punggungan ini kami lalui lumayan berat, karena harus naik turun jurang, selain itu jalanan tertutup ilalang, licin pula. Tapi kami terus berjalan, mau naik langsung dari tempat in juga terlalu curam.

Hutan yang lebat kami lewati, akhirnya kami juga sedikit mencari dan membuka jalan untuk menuju ke titik yang kami duga adalah jalan setapak, ..

Setelah sekitar 4 kali pindah punggungan, kami bertemu jurang yang dalam dan lebar menghadang, kami memutuskan untuk naik saja dari sini, dan setelah kami ormed ternyata, jika kita berjalan ke atas terus nanti akan sampai lagi di menara yang tadi pagi kami singgahi untuk beristrahat. Tanjakan 30-40 derajat kami lalui, dan aku juga kebagian bawa carrier sekarang, hujan deras datang, dingin kangsung menusuk tulang kami. Wah, dengan cara naik seperti ini, keinginan kami besama untuk bersenang-senang naik gunung untuk menikmati liburan jadi berubah, buka jalur untuk menemukan jalan kembali ke menara, sunggu melelahkan.

Jam 14.30 kami tiba di menara lagi, kami memutuskan untuk kembali ke warung Mbok Yem untuk beristirahat satu malam lagi, karena lelah sudah menghampiri kami, perjalanan satu hari ini yang seharusnya udah nyampe pos Cemoro Kandang berubah jadi aksi buka jalur, karena salah ambil jalan turun dari awal…fiuuh

Di Mbok Yem kami bercerita mengenai kesalahan kami ambil jalan, serta berganti pakaian dengan yang kering. Kami memesan makanan di sini, dibuka dengan teh hangat, kopi, kami melanjutkan dengan makan nasi lodeh dengan ikan tempe, muantaaop benerr, karena kami memang sangat lapar setelah perjalanan berat hari ini.

Malamnya kami habiskan dengan makan lagi serta main kartu di dalam warung, yang kebetulan menyediakan tempat untuk beristirahat yang cukup luas, dari ukurannya mungkin 100 orang bisa menggunakannya secara bersamaan untuk tempat menginap. Di dalam juga terdapat alas terpal dan tikar, Karena tertutup rapat, kami merasa nyaman meski tanapa mendirikan tenda.

29 Februari 2010

Jam menunjukkan pukul 04.30 ketika aku bangun pagi, saat dibangunkan Mas Paulus yang memang mudah terjaga di waktu malam, bangun pagi juga pasti dia duluan.

Setelah keluar sebentar untuk menikmati sunrise untuk kedua kalinya, kami langsung memesan makan dan minum di Mbok Yem untuk sarapan.

Kami turun bersama dengan mas Iwan serta 1 orang temannya yang kebetulan juga mau lewat pos Cemoro Kandang, kebetulan mas Iwan ini merupakan petuga jaja jadi pos Cemoro kandang. Berjalan santai saat trurun, ternyata jalur nya berada di kanan puncak Lawu, sempat juga kami berhenti 10 menit di pos 4, karena bertemu rombongan orang yang sedang berkumpul, mereka sepertinya habis melakukan ritual khusus di gunung ini, Pos ini sangat indah, dikelilingi lembah cantik menghadap ke kota serta lokasi yang cukup luas apabila ingin mendirikan tenda, disini juga terdapat bangunan permanen, yang sayangnya terlihat banyak sampah di dalamnya.

Perjalanan turun kami melewati 3 pos lagi, yang terdiri dari pos bayangan, pos 2 dan pos 1. Saya , Vandra, Candra dan Yasak ada di belakang, tidak bisa melihat tim yang ada di depan , karena kami banyak istirahat, dan ternyata mereka tiba di pos bawah (Cemoro Kandang) pada pukul 11.00, sedangkan kami pukul 13.00, selisih 2 jam, mereka menunggu kami lama tentunya…hehe……

Sebelum menuju ke Pare, rumah istri Mas Paulus, kami sempatkan menikmati soto di Cemoro Sewu, sepanjang perjalanan hujan deras, baru reda saat kami masuk di Madiun. Setibanya di rumah mbak Yeni, kami dijamu sate, wah mantap, lapar membuat kami sangat lahap untuk menghabiskan makanan yang disajikan. Untuk ke Surabaya kami diantar mas Nanang, Karena mas Paulus baru ke Surabaya besok pagi, tiba di Gayungan sekitar pukul 20.00, kami sempatkan ngopi di warung sambil menunggu hujan reda, tiba di kampus C pukul 21.30 yang juga berarti untuk pertama kalinya kami menginap di sekre baru.