Patung Budha yang megah
Pertunjukan Barongsai

 

Gong Xi Fat Cai

 

Jam menunjukkan 20.45 ketika aku memutuskan untuk berangkat ke Klenteng Agung di Kenjeran Park. Memang sih, berangkat sendirian agak males, tapi gimana lagi, pengen banget lihat bagaimana perayaan imlek kalau di klenteng secara langsung, sekalian ambil foto-foto di sana. Beberapa orang yang aku ajak sebelumnya juga tidak jadi ikut, jadinya sendirian adalah pilihan terbaik.

 

Hujan gerimis masih menemani perjalananku ke arah Kenjeran, tanpa jas hujan, untungnya hujan deras gak datang, malah bisa bikin acara berantakan.

 

 

Jalanan yang sepi

 

 

Melewati arah perumahan di Dharmawangsa, dilanjutkan ke arah jalan besar arah kenjeran yang juga melewati kampus C Unair, melewati pula beberapa rumah yang terlihat megah di Villa Galaxy. Jalanan yang lengang ini membuatku sedikit lebih santai dalam berkendara, benar-benar menyenangkan di jalanan ini, karena tidak banyak debu yang berterbangan, tidak mengganggu pula asap kendaraan bermotor, beda dengan keadaan Surabaya di siang hari.

 

Masuk ke Kenpark , harus bayar untuk per sepeda motor sebesar Rp 5.000, setelah itu jalan cukup besar ke arah timur, aku melewati beberapa polisi tidur yang cukup mengganggu, harus bersabar, karena polisi tidurnya tinggi-tinggi. Tempat di Surabaya yang identik dengan lokasi untuk memadu asmara ini, memang bisa dibuktikan dengan beberapa titik lokasi yang digunakan sepasang muda mudi yang memadu kasih di atas jok sepeda motor, geliat malam ini sudah berlangsung lama, sehingga tempat ini aman bagi sepasang kekasih untuk saling melepas rasa rindu atau sekedar untuk “bertemu”, tidak akan ada petugas keamanan yang akan menertibkan ” kreatifitas” mereka untuk menikmati malam yang mereka anggap romantis tersebut.

 

Di ujung timur jalan, aku belok ke kiri, masih saja polisi tidur yang cukup tinggi membuat kenyamanan berkendara terganggu. Aku memarkir sepeda motor di dekat food court yang ada di sana, tempat ini cukup menarik untuk dijadikan tempat makan karena menghadap lansgung dengan laut lepas, untungnya saja malam hari , jika nongkrong pada siang hari, pasti akan terganggu dengan kotor nya pantai ini, warna coklat disertai taburan benih keruh serta sampah yang belum terkelola menghiasi pantai ini.

 

Suasana di dalam Klenteng

Sangat ramai tentunya di tempat ini, aku juga menyempatkan untuk melihat sejenak beberapa aktifitas sembahyang yang dilakukan warga Tionghoa. Di tempat ini didominasi warna merah dengan taburan lilin yang tertata dengan indahnya, lilin kecil yang tertumpuk rapi, lilin besar yang ditaruh berjajar-jajar, menghiasi ruangan cantik ini yang berisikan patung para Dewa yang terukir jelas di masing-masing guratan setiap sisi ruangan. Warna patung dibuat dengan warna emas. Ke area belakang Klenteng, terlihat pelepasan balon warna warni yang cukup banyak sebagai salah satu bentuk kegembiraan para pengunjung. Warna-warni balon yang di lepaskan ke udara ini melambangkan kuatnya persahabatan serta harapan-harapan yang tinggi terhadap hidup di masa yang akan datang.

 

Saat berdoa, mereka menggunakan hua kecil sebagai pelengkap, disamping hua besar yang telah disediakan, lilin, aneka buah-buahan yang juga sudah ada di tempat tersebut. Penataan lilin yang amat sangat banyak dan teratur ini, mempercantik suasana di dalam ruangan, hal inilah yang membuat aku terkagum-kagum dengan tempat ini.

 

Di bagian belakang, yang berhubungan langsung dengan garis pantai, terdapat semacam gapura yang besar, dimana beberapa patung dewa terpajang disitu, termasuk yang paling dikenal orang-orang, yakni Dewi Kwan Im. Naga besar juga melengkapai seni arsitektur yang megah ini.

 

Imlek yang dirayakan ini merupakan tahun ke 2561 dalam hitungan tahun Cina, bertepatan dengan tahun shio macan dalam hitungan tersebut. Warna merah juga mendominasi tempat ini. Selain sajian indah dalam ruangan, di tempat ini juga digelar berbagai acara seperti pertunjukkan barongsai, games-games, serta ritual upacara, serta tidak lupa adalah penyediaan makanan dan minuman secara gratis oleh pihak panitia. Terdapat panggung mini juga di sisi selatan yang digunakan untuk beberapa pertunjukkan.

 

Gerimis juga sudah agak berkurang, pertunjukkan barongsai pun di mulai, mereka berputar-putar dengan diiringi beberapa alat musik pukul, mereka mengelilingi area persembahyangan di dalam klenteng, sambil sesekali dengan berdoa tentunya, selesai itu semua, dua barongsai berwarna putih tersebut kembai ke belakang untuk naik panggung utama, mereka menari-nari serta meliuk-liuk sambil menerima angpau dari para pengunjung.

 

Sayang sekali, atraksi barongsai tidak lama dan tidak lengkap, cerita ini didapatkan dari temanku yang ternyata main barongsai tadi, dia bertugas memukul alat semacam bedug, tapi di berdirikan, lama tak bersua eh ternyata punya keahlian main barongsai, gak nyangka dengan teman ku yang satu ini, walaupun pada awalnya, aku juga lupa namanya.

 

 

Malam pun berlanjut, aku pun berjalan keluar dan menyebrang jalan, menuju patung Budha yang besar untuk mengambil beberapa gambar, walaupun sepi, tapi tempat tersebut tetap menyajikan keeksotikan tersediri, penataan lampu serta megahnya bangunan membuat keunikan tersendiri, jadi serasa di negara lain.

 

Selang waktu 5 menit, ada sebuah keluaraga yang juga berdoa di sini, serta ada juga sepasang muda mudi yang tentunya warga keturunan cina yang berfoto-foto ria di tempat tersebut.

 

Setelah cukup berkeliling, aku memutuskan untuk kemabli ke kampus.

 

Gerimis masih mengiringi perjalanan pulang ku…………………………