Dua acungan jempol memang layak diberikan pada masyarakat desa yang tinggal di sekitar kawasan Taman Nasional Kilimanjaro-Tanzania, bagaimana tidak, kepatuhan mereka terhadap aturan leluhur untuk menjaga kelestarian alam dan tidak untuk membunuh binatang, masih dipegang hingga sekarang. Hal ini lah akhirnya yang membuat negara ini sangat maju dalam pengelolaan wisata safari fauna dan flora nya. Tidak hanya di kawasan Taman Nasional kita dapat menyaksikan banteng, rusa, Zebra, jerapah dan lain-lain berlari dengan bebas tanpa takut akan diburu manusia, tapi juga di daerah perkotaan seperti Kota moshi dan Arusha yang merupakan kota kedua dan ketiga terbesar di Tanzania setelah Ibukotanya Dar es salaam kita pun dapat melihat beraneka burung cantik yang terbang rendah di langit maupun mencari makanan di sekitar penginapan tempat kami bermalam, bahkan kita pun dapat mendekat dan mengabadikannya dengan kamera dengan jarak 2 meter. Burung-burung di tempat tersebut tidak takut dengan keberadaan manusia di dekatnya, karena memang masyarakatnya tidak akan berburu burung untuk dijadikan santapan layaknya masyarakat di Indonesia.

Di salah sudut kota Nairobi

Bagitu pula dengan Gunung Kilimanjaro, gunung yang kita daki pada saat di sana, juga membuat kami begitu kagum, karena dengan pengelolaan yang bagus, membuat keanekaragaman hayati terpelihara. Kita bahkan susah untuk bisa menemui puntung rokok ataupun bungkus permen tertinggal di jalur pendakian, apalagi tumpukan sampah, malah tidak ada. Karena memang, secara peraturan hal itu sudah berjalan berpuluh-puluh tahun, hal itu pun ditunjang dengan kesadaran pribadi masing-masing porter maupun guide untuk tidak membuang sampah sembarangan serta membawa turun kembali ke kota sampah masing-masing yang dibawa pada saat mendaki.

Selain itu, pihak Taman Nasional juga membangun WC semi permanen yang sangat sederhana untuk digunakan buang air besar maupun kecil di tipa camp pandakian. Bangunan dari kayu ini sudah ada sejak 10 tahun lalu, dan selalu ada perbaikan jika rusak. WC itu di dalamnya hanya ada lubang dalam berdiameter 15cm, dimana lubang itu adalah untuk buang air besar, juga dilengkapi dengan semacam pipa besar yang berfungsi mirip septitank. Kita cukup membawa tissue kering maupun basah untuk membersihkan diri, air memang tidak ada. Setiap bangunan pun memiliki nomor register yang digunakan untuk kepentingan administrasi dan inventarisasi pengelola setempat.

Selain itu, kearifan masyarakat terhadap alam sekitar juga ditunjukkan oleh Suku Masai, dimana mereka banyak tinggal di perbatasan Kenya dan Tanzania, suku terpencil yang memiliki kekhasan pemakaian selendang merah darah atau biru gelap di tubuh nya ini juga sangat hormat pada hewan liar. Tempat tinggal mereka terbuat dari kotoran sapi yang dilumurkan ke tembok, yang sebagian besar dari tanah, bertujuan untuk mengusir nyamuk. Bertempat tinggal di daerah yang gersang pun tak membuat mereka berniat untuk membunuh binatang liar sekalipun. Peraturan tidak tertulis ini memang sudah turun temurun sejak abad sebelum masehi. Kepercayaan mereka juga untuk berlaku untuk air minum, mereka juga terkenal dengan mengkonsumsi darah yang berasal dari binatang peliharaan seperti sapi dan kambing yang mereka suling dengan cara khusus, mereka tidak mengkonsumsi air karena mereka menganggap itu jatah untuk binatang liar.

Warna merah sebagai ciri khas

Bagaimana dengan kota Nairobi ?

Tidak jauh berbeda dengan negara tetangganya, kota Nairobi yang merupakan ibu kota Kenya juga memiliki masyrakat yang anti dengan kebiasaan berburu binatang. Kami juga melihat dengan mata kepala sendiri, banyak burung terbang bebas ditengah kota, bahkan banyak juga yang bertengger di pohon taman yang berada di dekat jalan raya pada sore hari, sehingga pemandangan unik ini pun membuat kami sempat kaget dan bergumam “ini kalau di Indonesia, pasti sudah ada di meja makan..hehe..”. Bersamaan dengan itu kami juga heran, burung banyak berkeliaran bebas, eh malah lampu lalu lintas yang ada di kota terlihat di beri sangkar berbahan kawat dan besi, info dari pihak kedutaan, memang lampu lalin itu diberi sangkar, karena sering sekali mahasiswa yang sedang demo itu suka merusak fasilitas umum termasuk lampu lalu lintas.

Selama di Nairobi kami tinggal di Wisma KBRI yang berada di nashville, sedangkan kantor kedutaan berada di Upper Hill, jarak antar keduanya sekitar 15 menit menggunakan kendaraan. B erada di ketinggian 1725mdpl, menciptakan hawa yang dingin di kota ini, padahal sebelumnya, kami kira di Afrika itu panas, termasuk di Nairobi ini. Walaupun menjadi kota yang cukup maju, kota ini ternyata menyimpan jejak kriminalitas yang sangat tinggi, hal ini disebabkan oleh jurang pemisah yang lebar antara si miskin dan yang kaya, untuk jalan-jalan di kota saja perlu kewaspadaan tinggi, jika tidak penting disarankan tidak perlu jalan-jalan.

Walaupun kami banyak menghabiskan waktu di dalam wisma, kami merasa senang karena secara informal, kami diterima oleh bapak Budi Bowoleksono selaku Duta Besar dengan sangat baik, bahkan kami juga diperkenankan untuk makan malam bersama beberapa kali, sehingga bayangan kami mengenai protokoler yang akan kami hadapi selama di wisma KBRI ternyata tidak terbukti, selain itu, kami juga sempat beberapa kali gabung dengan tamu penting KBRI yang mampir di Wisma seperti anggota DPR R.I, staf kementerian Negara Lingkungan Hidup R.I serta beberapa dokter yang datang karena ada workshop di Nairobi. Selain itu kami juga menyempatkan mengunjungi Nairobi National Park, sebuah padang ilalang yang luas di kota Nairobi, dimana di tempat tersebut tinggal berbagai macam binatang seperti Zebra, Kijang, Sapi, Jerapah, harimau, Kerbau, wild the beast serta baboon. Setelah memasuki gerbang untuk tiket masuk, kita bisa menggunakan mobil pribadi untuk mengelilingi area Taman Nasional tersebut.