Andrea Hirata,………

 

Adalah sosok yang belum aku kenal sebelumnya, baca novel-novelnya pun belum pernah, maklum aku bukan penggila novel, walaupun penjualan novel-novelnya adalah salah satu best seller di Indonesia, bahkan ada beberapa negara yang sudah menerjemahkan ke bahasa Inggris.

 

Novel yang ia karang terdiri dari 4 seri (tetralogi), secara umum, kisah yang diangkat di novel-novelnya adalah tentang pengalaman dia mulai dari kecil hingga sekarang, yang terdiri dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor dan Maryamah Karpov. Dua novel pertama telah difilmkan, dan kedua-duanya sangat sukses, dengan jumlah penonton yang membludak saat di sajikan di Bioskop, sekaligus mengukir sejarah dalam perfilman Indonesia dalan jumlah penonton, kalau gak salah sih kurang lebih 4 jutaan orang yang sudah melihatnya,….

 

Acara ngobrol asyik ini dikemas dengan cukup sederhana, dilaksanakan di Atrium Kapas Krampung Plaza kemarin 1 Mei 2010 pukul 18.00-20.30, dengan bentuk tanya jawab, Andrea memang tidak banyak memberikan penjelasan, tapi hanya menjawab pertanyaan yang diajukan para peserta yang hadir, kemudian dijawab langsung. Pertanyaan beragam, mulai tentang novelnya, tentang filmnya, perjalanan karir maupun tips-tips menulis pun menjadi salah satu bahan tanya jawab saat itu, tentunya hadiah dari sponsor bagi yang bertanya, menjadikan sesuatu yang menarik pula, dengan adanya doorprize dari panitia, membuat meriah acara ini, kebetulan acara ini di sponsori oleh Telkom Flexi.

 

Banyak cerita menarik yang disampaikan oleh Andrea,…………

 

Dalam novel tersebut, Andrea kecil pada saat itu adalah si Ikal, dengan setting tempat di Bangka Belitong, novel ini sangat dihargai, yang menunjukkan bukti semangat kedaerahan yang masih menonjol, bagaimana tidak, sebagai salah satu novel terlaris, banyak pembaca dan pengamat yang akhirnya menyadari bahwa di beberapa wilayah di Indonesia ternyata masih banyak menyimpan beberapa semangat positif di bidang pendidikan yang bisa di gali. Selain aspek khas ke-lokal-an yang diangkat, kita juga patut memberikan acungan jempol pada perjuangan seorang Andrea yang sebebarnya tidak mempunyai latar belakang sekolah sastra, bahkan membaca novel pun jarang, tetapi dengan mimpi yang pernah dia gambarkan pada saat kelas 5 SD, ia akhirnya mampu menghasilkan karya novel, yang memang pada saat dia menulis, dia mengaku tidak berhenti apabila belum menyelesaikannya, dia terus menerus menulis, tanpa ada kegiatan lain yang boleh mengganggunya. Sehingga keinginan ini bisa terwujud berkat kegigihannya dalam menulis.

 

Dari pemaparanya juga dapat kita ketahui, ternyata novel Laskar Pelangi dan Maryamah Karpov banyak perbedaan yang muncul, saat penulisan Laskar Pelangi, Andrea merasa ia hanya menulis dan menulis, tanpa memikirkan mengenai pemilihan kata, bentuk dan struktur bahasa serta yang lainnya, ia menerapkan istilah I write what I feel, sehingga kemurnian isi dari novel lebih menarik daripada Maryamah Karpov, yang pada saat penulisanya, Andrea juga memikirkan kaidah sastra di dalamnya, sehingga gaya penulisan juga berubah, dan lebih terstruktur (I write what a think and I feel), tapi ini hanya sekedar opini, jadi tidak bisa dijadikan acuan novel Laskar Pelangi lebih bagus, karena dari segi pejualan di pasar, Maryamah Karpov hampir menyalip penjualan Laskar Pelangi……so, who knows ????

 

Karena dua novelnya sudah di filmkan, otomatis royalti yang di dapat oleh Andrea melimpah, padahal dari satu novel saja, dia sudah mendapat royalti sekitar 10 milliar, angka yang cukup besar, tapi dia berprinsip untuk tidak menjadikan penghasilan ini untuk dirinya sendiri, tapi digunakan untuk aktivitas sosial yang terutamanya ditujukan ke daerah asalnya, entah untuk pengembangan perpustakaan maupun sekolah-sekolah di Bangka Belitung. Cara seperti ini memang bisa kita contoh, seorang lulusan salah satu perguruan tinggi di Prancis ini bisa sedemikain peduli dengan keadaan lingkungan sekitar, tidak hanya memikirkan perolehan materi dalam ketenaranya dalam menulis.

 

Tidak hanya itu, selain menulis dan membuat film, ia juga mampu menciptakan lagu, yang akhirnya lagu tersebut dinyanyikan oleh Ungu, judul lagunya adalah Cinta Gila, yang juga menjadi OST. Film Sang Pemimpi.

 

Melihat semangat Andrea yang berasal dari sebuah desa kecil di ujung selatan Sumatera, kita harusnya juga yakin pada kemampuan kita sendiri, jika kita tertarik untuk sekolah ke luar negeri, tentunya kita harus meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, Karena bahasa yang satu ini adalah salah satu point utama dalam mengejar beasiswa ke luar negeri.

Dari sini , aku bisa melihat bahwa semua yang dikerjakan Andrea adalah berawal dari mimpi, yang akhinya diwujudkan secara nyata disertai usaha yang sungguh-sungguh dan tanpa kenal kata “malas”, sikap konsisten dengan apa yang sedang dikerjakan memang penting, termasuk dalam hal tulis menulis.

 

Kabar terbaru adalah, sekitar 1 bulan lagi ia juga akan meluncurkan novel terbarunya berjudul Padang Bulan dan Cinta di dalam gelas. Semoga berhasil. Semoga makin menginspirasi orang lain,….