Penampilan teater dari Prancis yang satu ini memang patut diacungi dua jempol. Bagaimana tidak, dua orang yang sangat berkarakter mampu membius seluruh penonton yang ada di CCCL. Dengan gaya yang unik, di dukung dengan tata cahaya dan propertinya yang unik serta kreatif, para pemain terlihat sangat terlatih, baik dari segi olah tubuh, mimik muka bahkan gaungan suara vokal nya.

Penghayatan peran yang benar-benar bikin aku takjub………………………………………..

Penampilan kali ini berjalan atas kerjasama CCCL Surabaya, mereka adalah kelompok teater dari Prancis yang kebetulan berada di Indonesia, untuk menciptakan pentas baru mereka serta menimba ilmu tentang kesenian topeng tradisional, serta wayang Jawa dan Bali. Setelah melakukan residensi di lembaga Prancis Yogyakarta bersama Alliance …………………………..

Cerita dari pertunjukkan ini sendiri berjudul Imago, dimana bisa diartikan tokoh aneh dengan kepala tertanam. Dia tumbuh seperti tanaman dan hidup bertransformasi secara tidak lazim dari binatang menjadi manusia bahkan, cerita ini juga memperlihatkan bentuk dari segala macam kenyataan dalam kehidupan, seperti pohon yang tumbuh seiring dengan berkembangnya benih, kupu-kupu yang bermetamorfosis dari ulat dan kepompong, serta adanya gotong royong dalam kehidupan (aspek manusia).

Sekilas cerita nya seperti ini,……..

Seorang wanita keluar dari balik bilik warna putih, dia membuka kotak kecil yang juga terbuingkus kain putih, ia menanam satu per satu bahan kayu, yang nampak wujudnya seperti pertumbuhan pohon dalam ukuran kecil.

Wujud manusia menjadi pohon dengan kepala di bawah menjadi bagian cerita yang kedua, setelah wanita tadi kembali menghilang di balik bilik, wujud aneh tersebut bergerak dengan susah payah, dia beradaptasi untuk berjalan dengan langkah yang tertatih-tatih,…………………………..

Tiba-tiba, seekor semut berjalan, melewatinya dengan suara desisan yang aneh. Dari sisi ini, si semut memberikan pelajaran kepada si manusia melalui buah apel dan satu buah lagi yang amat keras saat digigit, kemudian dia marah dengan adanya buah yang kedua tersebut, kesukaannya pada apel yang tergantikan dengan buah lain membuat ia berjalan secara tak tentu arah untuk mencari semut tadi,….tapi sayang……ia tak menemuinya,……

Dan kemudian,..

Ulat keluar secara tiba-tiba saat terlihat sebuah pohon yang mulai tumbuh, yang dilukiskan oleh pemeran wanita di bilik putih yang dijadikan latar panggung tempat penampil, pemeran laki-laki mewarnainya dengan warna merah yang didapatnya dari tumbuhan liar yang ada disampingnya, ia terlihat sangat senang dengan ekspresi barunya, yang baru ia temukan, mewarnai ujung ranting dengan warna merah, yang bisa dianalogikan sebagai bunganya,….

Dan kemudian,….lagi……….

Seekor ulat muncul, memperlihatkan metamorfosisnya menjadi kupu-kupu, si manusia tesebut baru menyadari bahwa ia juga mempunyai detak jantung, sama dengan kepompoing yangh ditimang-timangnya,…….dug…dug…dug..ia tertawa kembali…………pencerahan baru tentunya…………………………………….

Ia juga terlihat marah, di saat kepompong yang dia sayangi tadi hampir saja dimakan oleh serangga pemangsa, ia bertarung mati-matian untuk meyelamatkan kepompong tersebut ,………..