Sajian yang cantik di dunia hiburan, mampu dihadirkan oleh CCCL Suarbaya pada 25 – 27 Juni 2010.

 

Dalam rangkaian acara, yang diberi judul “festival Negarakertagama”.

 

Nama yang sudah sering kita dengar, terutama saat masa-masa sekolah, diamana pelajaran sejarah sedang berlangsung.

 

Kata Negarakertagama memang dikenal terutama pada masa kerajaan Majapahit, yang merupakan kerajaan besar yang pernah ada di nusantara.

 

Kata Negarakertagama, merupakan nama kitab yang dikarang oleh Mpu Tantular

 

 

Kembali ke acara itu sendiri …

 

Pertunjukkan kali ini menampilkan Cie Chant de Balles Dari Prancis, yang menampilkan sirkus kontemporer dengan judul Pai Sai.

 

Tanggal 26 Juni 2010 bertepatan dengan hari Jumat.

 

Aku berangkat dari kos pada jam 19.00, menuju Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur, yang lokasinya berda di Gentengkali.

 

Setelah memarkir sepeda, aku menuju ke gedung tersebut. Terlihat beberapa pengunjung yang berada di luar. Bukan untuk mengantri ternyata, tapi memang acara belum dimulai, sehingga pengunjung belum bisa masuk ke ruangan.

 

Aku juga ikut menunggu di luar, sambil melihat sekilas isi majalah Bhineka yang dibagikan secara gratis serta menyapa beberapa teman-temanku yang juga berniat melihat acara ini.

 

Majalah ini menjadi bacaan favoritku saat ini, memang.

 

Kali ini bahasan nya mengenai konferensi ILGA yang penyelenggaraannya menghadapi berbagai masalah.

 

Sekitar 30 menit menunggu…

 

Pintu masuk dibuka.

Satu per satu, para pengunjung masuk.

 

Aku sendiri mampir dulu ke kamar kecil untuk buang air kecil.

 

Duduk di kursi yang telah disediakan panitia, tepatnya nomor tiga dari belakang.

 

Sambutan dari panitia diberikan. Ucapan selamat menikmati pertunjukkan pun idak dilupakan.

 

Kemudian, lampu dimatikan.

 

Pandangan mata fokus tertuju pada panggung di depan.

 

Temaram cahaya kekuningan yang menyinari beberapa properti yang nampak samar.

 

Kemudian…

 

Seorang pria maju, membawa serta bola-bola kecil seukuran bola tennis, dia memperlakukan bola itu dengan keahlian yang mirip dengan juggling, bola di lempar ke atas, ditangkap, dilempar ke atas lagi, kemudian di tagkap lagi, begitu seterusnya, hingga menimbulkan kesan yang indah pada gerakan yang dia mainkan.

 

Bola itu tidak hanya dua, tiga..bahkan jumlahnya mencapai lima, bahkan enam.

 

Aku terkesan.

 

Tidak berhenti sampai disitu saja..

 

Beberapa properti tambahan dia gunakan untuk terus melakukan juggling terhadap bola-bola itu.

 

Setiap berganti gaya, setiap berganti alat, saat itu pula muncul sebuah aksi cantik yang disuguhkan selama kurang lebih 60 menit totalnya,.

 

Tata cahaya yang indah, terlihat pula dekorasi panggung yang minimalis, memberikan kesan sangat manis dan ramah pada pandangan mata ke arah panggung.

 

Sesekali pria itu minum, tak ada yang disembunyikan.

 

Patut kita hargai, karena keterampilan yang luar biasa.

 

Tepuk tangan selalu terlihat renyah, setiap kali dia pindah ke bentuk permainan lainnya.

 

Selain minum, sesekali pula ia juga mengusap keringatnya yang bercucuran.

 

Permainan cantik itu, menjadikan sirkus kontemporer malam itu, layaknya menikmati pertunjukkan teater. Karena memiliki alur cerita, tersendiri dan unik penyajiannya.

 

Multitalenta, bisa disebut seperti itu.

 

Selesai pertunjukkan…

 

Aku menikmati makan malam, di warung dekat Cak Durasim, nasi bungkus seharga tiga ribu rupiah, ditambah teh hangat serta martabak yang sudah dingin 