Seminar ini bertajuk Rising Creative Indonesia oleh MPPO (Magister Perubahan dan Pengembangan Organisasi) Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, diadakan di gedung Gramedia Expo pada Jumat, 9 April 2010. Saya dan teman-teman dari Insan Baca (IB), sudah lama mendaftar dan merencanakan untuk ikut bareng-bareng, tentunya dengan semangat untuk terus belajar dan mendapatkan pengetahuan baru, terutama dalam pengembangan diri dan organisasi. Rencananya kami berkumpul di Gramex pada pukul 17.00, untuk registrasi bersama-sama, tapi berhubung ada beberapa orang yang masih ada urusan, akhhirnya kami registrasi sendiri-sendiri, kebetulan di meja panitia, antrian yang mengular terlihat, peserta acara ini cukup banyak, karena kebanyakan organisasi membawa minimal 10 orang anggotanya. Saat registrasi ini, kita diberi nomor kelompok serta selembar kain berwarna. Konsep utama dari seminar ini adalah bentuk teatrikal yang ditawarkan kepada peserta, yang kebanyakan saya lihat banyak yang berasal dari kalangan mahasiswa. Ada 3 macem paket untuk menjadi peserta, selain free man seperti aku dan temen-teman Insan Baca, ada juga jenis smart man dan X-Man yang harga tiketnya mencapai Rp 300.000, dari kelompok ini banyak yang berasal dari perusahaan maupun kalangan profesional yang lainnya.

 

Setelah berkumpul semua, saya dan temen-teman IB masuk ke Convention Hall utama, terlihat di dalam, penerangan yang minim sengaja digunakan panitia untuk menambah kesan dramatis dari rangkaian acara nantinya, kebetulan aku berada di kelompok 3, yang berada di bagian depan sebelah kiri, dengan arahan panitia, aku mengambil tempat duduk. Secara umum, ending story akan ditentukan oleh para penonton. Penonton akan diajak bereksplorasi menemukan sebuah bentuk kreativitas menuju Indonesia kreatif.

Seminar ini dikemas dengan cerita dari sebuah kerajaan yang bernama Simaluwatuku, yang didiami bangsa yang besar tapi berjiwa kecil. Bangsa ini terjebak dalam kebanggaan masa lalu, dengan dipimpin raja marsulabi, raja tersebut memiliki harapan untuk menyejahterakan negaranya, yang bisa terwujud apabila dengan bantuan serta cucuran usaha keringat rakyatnya, dalam hal ini peserta seminar dijadikan sebagai rakyat dari kerajaan tersebut, dengan istilah simaluers. Jadi, peserta diarahkan untuk mengikuti arahan raja, untuk dapat mengarahkan rakyatnya, untuk mencapai tujuan bersama. Untuk mewujudkannya, raja harus menyingkirkan sesosok bangbangtut yang sebenarnya berada dalam diri masing-masing, yang mempunyai perangai buruk atau bisa disebut negative attitude, yang tentunya bisa menghalangi untuk pencapaian kesejahteraan bersama, tapi ada pula peran Dewi Inkrea yang nantinya bisa membantu mewujudkan cita-cita bersama yang bertujuan mulia ini, yang dianalogikan kerajaan ini adalah negara kita tercinta, Indonesia. Singkatnya, Dewi inkrea ini bisa dihidupkan secara utuh dengan syarat adanya pemenuhan 4 elemen yang terdiri dari harapan, imajinasi, desain dan resonansi, ke empat syarat ini di wujudkan dengan penyampaian materi seminar yang disampaikan oleh Alanda Khariza (peraih Young Changemaker Awards for Innovations sekaligus penggagas Youth conference serta penulis Bunuh Diri Massal), Riri Riza (sineas muda idealis), Singgih Susilo Kartono (penemu radio Magno) dan Dynand Fariz (pencetus Jember Fashion Carnival yang juga penerima KickAndy heroes 2010). Ke empat orang pengarah tadi akan dipandu oleh Dr Seger Handoyo, selaku penggagas MPPO serta Dekan Fakultas Psikologi.