maka, aku bisa menyatakan senang

jika saja saat aku menyapa, kau pun berbalas

menjadi sebuah penghalang, jika sapaan itu

tak bertatap muka

aku tak tahu engkau…

raut senang, susah masam, terlalu biru bagiku

bahkan jika rindu, aku tak tahu

sedang aku di sini, berharap cemas akan

gairah semu, yang pastinya aku tak mau

dibatasi waktu

kesemuan hanya membawa bisu

yang aku tunggu wujud nyata dan kesungguhanku

maka, perkenankan aku

meraih ikatan sendu, yang nanti akan

kurangkai bersama merdunya lagu

tuk mengiringi pagi yang mestinya

ragu untuk aku rengkuh

tapi aku tak peduli pada pagi

yang selama enam jam, akan ditelan matari siang

sore terlalu lugu bagiku, jadi

malamlah yang jujur…

malam bisa menyembunyikan semu itu

malam pun aku pilih untuk sementara waktu

untuk menggantikanmu…

aku akan menceritakan semua tentangmu

aku akan bercanda…hanya kepada malam

saat ini, aku pun tak tahu

dimana keberadaanmu

aku bangga punya segenggam kalut

yang sewaktu-waktu mengancam…

yang pastinya aku punya rindu yang kabur

untuk memberikan mu kecupan sedingin batu

tuk menemani mu merajut mimpi di atas kasur