djaduk n butet

interaksi dg penonton

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penampilan Djaduk, Butet dan Orkes Sinten Remen

Dies Natalies 50 ITS (28 Oktober 2010)

 

Hujan mengguyur kota Surabaya pada jam setengah 6 petang, cukup deras. Dan saya khawatir tidak akan reda, karena hari ini aku ada rencana ke acara diesnya ITS yang ke 50, dimana kali ini yang menjadi bintang tamu adalah Butet Kertaredjasa, Djaduk Ferianto dan Orkes Sinten Remen dari Jogja….Yah akhirnya cuman bisa berharap hujan segera reda…

 

Sesuai harapan, akhirnya satu jam kemudian, hujan pun reda. Wah, akhirnya bisa juga lihat acara nya, tak berlama-lama, aku pun bergegas mandi…tidak lupa menggosok gigi tentunya (ngutip lagu masa kecil…hehe).

Sekitar jam 8 malam aku pun berangkat bersama temanku ke lokasi yang berada di parkir timur, depan gedung Robotika ITS. Sempat nanya mahasiswa setempat sih, karena memang tidak tahu tempatnya, dan baru tahu bahwa ITS memang sangat luas, dan beberapa bangunan yang megah terlihat, tertata dengan cantik, hal itu terlihat dari desain bangunan dan penataan lampu penerangan yang ada (kampus saya kalah kalau dalam hal ini memang). Tiba di gedung robotika, aku sempat melihat-lihat gedung ersebut, yang desainnya cukup unik. Dan tidak berlama-lama, setelah menikmati soto daging, aku pun mencari kursi yang berada di depan panggung.

Menunggu lama sekali, 1 jam lebih, dan acara belum juga dimulai, para penonton pun terlihat bosan juga.

Sekitar jam setengah 10 malam, MC pun keluar dan membuka acara, beberapa sambutan pun disampaikan. Menginjak pada acara utama, MC pun mempersilahkan para bintang tamu untuk maju ke depan, dan anehnya, para penampil tidak berada di atas panggung, tetapi malah berada di bawah, tepatnya di depan panggung. Kami pun bertanya-tanya???

 

Setelah dijelaskan, ternyata ada kendala teknis pada panitia penyelenggara, dimana peralatan musik termasuk sound yang akan digunakan mengalami kerusakan karena hujan yang turun sebelumnya, semua peralatan dan properti pelengkap yang ada di panggung kehujanan. Hal ini membuat kecewa banyak penonton tentunya, yang sudah sabar menunggu untuk acara dimulai.

 

Raut muka kekecewaan pun tampak pada pengisi acara juga, yakni pemain orkes Sinten Remen dan Djaduk sendiri, padahal mereka sudah mempersiapkan penampilan yang istimewa untuk pentas malam tersebut (sebenarnya). Tapi dengan besar hati, akhirnya mereka pun melanjutkan untuk pentas malam tersebut dengan kondisi apa adanya, semangat juga muncul setelah Butet juga memberikan beberapa kata penyemangat pada penonton yang hadir. Kami semua diarahkan untuk membawa kursi masing-masing untuk maju agar lebih dekat dengan panggung, dan tentunya agar dapat melihat dan mendegarkan dengan jelas permainan musik orkes Sinten Remen, karena hanya ada 2 pengeras suara (mic) yang berfungsi saat itu. Padahal seharusnya membutuhkan minimal 10 mic kira-kira, sesuai dengan jumlah pemain Sinten Remen.

 

AKhirnya setelah agak kondusif (penonton sudah maju, pemain orkes siap) acara pun dibuka oleh Butet, dengan guyonan khasnya (kritik lucu, sindiran-sindiran, serta menirukan gaya bicara seorang tokoh)….selain monolog yang nantinya akan dibawakan tentunya, yang utamanya membahas tentang peran mahasiswa, adanya korupsi, terpaan bencana di negeri ini, dan lain-lain. Dengan sentuhan humor yang dimasukkan diantara monolognya, argumen yang keluar pun terlihat menarik dan lebih cerdas.

 

Orkes Sinten Remen dan Djaduk pun tidak mau ketinggalan, mereka menyanyikan lagu-lagu khas keroncongan yang diaransemen ulang, tentunya permainan apik mereka didukung dua vokalis ceweknya yang mempunyai karakter suara pop dan keroncong yang mantab.

 

Tentunya, dengan semakin dekatnya posisi penonton dan pementas, membuat semakin akrab dan santai pertunjukkan ini, dan semakin interaktif saat dialog terjadi diantara keduanya.

 

Pertunjukkan diakhiri jam 11 malam dengan ditutup lagu Tanjung Perak dan Surabaya (versi bahasa Belanda), walaupun sebenarnya kalau mau dilanjut kami pun tak keberatan,..hehe…

Dengan penampilan yang mengesankan tersebut, kekecewaan pun sedikit terobati dengan penampilan Butet dan permainan Sinten Remen + Djaduk yang menghibur. Ide acara ini pun terlihat cerdas, karena dengan mempunyai tujuan yang bermaksud memadukan sisi intelektual dan seni secara bersamaan, dimana diharapkan adanya lulusan mahasiswa yang mempunyai prestasi di bidang akademis, juga memiliki ketertarikan di dunia seni dan budaya untuk meningkatkan peran sosialnya di masyarakat. Tidak hanya itu, selama kuliah pun diharapkan pula untuk mengikuti dan mempelajari bagaimana seni mengembangkan eksistensinya selama ini dengan cara terus berkarya. Dilatarbelakangi adanya pentingnya imanjinasi dalam menciptakan karya, mahasiswa juga diharapkan selalu mempunyai imajinasi yang positif, untuk menciptakan suatu penemuan yang berguna bagi pembangunan bangsa dewasa ini. Karena sesuai dengan yang diimpikannya, imajinasi akan membuat seseorang untuk berpikir bagaimana mewujudkannya, dengan tetap dilandasi dengan dasar kelimuan masing-masing dan logika berpikir yang positif.

 

Tujuan yang mulia…semoga terwujud, demi kemajuan bangsa tercinta ini…..