Ada beberapa pilihan jalur/bidang konsentrasi, yang bisa kita pilih untuk berprestasi di kampus saat menjalani masa kuliah, baik di bidang akademik maupun non akademik. Pilihan tersebut tergantung kita sendiri, bukan orang lain!

Perencanaan masa depan dapat dirancang sekarang juga, saat pertama kali proses kuliah berjalan. Dengan perencanaan yang matang, maka kita dapat membuat skala prioritas pencapaian jangka pendek, menengah maupun jangka panjang, serta langkah-angkah yang konkrit untuk mewujudkan harapan positif yang kita inginkan. Sesuai dengan kebutuhan kerja saat ini, lulusan sebuah perguruan tinggi diharapkan tidak hanya memilki kemampuan akademis yang menonjol, tetapi juga harus memiliki softskill yang memadai sebagai bekal untuk bersaing di dunia kerja. Capaian akademis yang bagus, dengan indikator nilai IPK memang menjadi kewajiban utama, tapi selain itu, kita harus membekali diri dengan kemampuan dan pengalaman berorganisasi untuk mendapatkan softskill yang dijadikan salah satu pijakan utama dalam sukses berkarir nantinya.

Saya dan beberapa rekan, sebagai salah satu bagian dari civitas akademik Universitas Airlangga, memutuskan sejak awal kuliah, untuk fokus berkegiatan di alam bebas dan berhubungan dengan masyarakat secara langsung sebagai pilihan untuk belajar berorganisasi. UKM Wanala UA, itulah nama wadah pengembangan diri yang kami pilih, karena terdapat beberapa pilihan beberapa bidang bagi mahasiswa untuk berkreasi sesuai dengan keinginannya, dengan dasar rasa patriotisme serta cinta tanah air, organisasi ini mempunyai fokus untuk mengembangkan beberapa peminatan yang dapat dipilih oleh anggota yang baru masuk, seperti kegiatan alam (hutan gunung, panjat tebing, arung jeram, susur goa serta konservasi), pengabdian masyarakat maupun penelitian ilmiah.

Antara Sendang biru-Muncar
Jembatan Jurang Mayit

Gunung Raung

Saat itu tahun 2007, saya dan beberapa anggota yang militan memutuskan untuk mencanangkan program jangka panjang bagi organisasi, yang mempunyai target waktu hingga tahun 2022. Kami memutuskan untuk mengadakan kegiatan secara berkelanjutan yang mempunyai kelas di tingkat internasional. Setelah melalui rapat dan beberapa diskusi yang panjang, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan program pendakian 7 puncak gunung tetinggi di dunia (7 summits). Setelah hampir 15 tahun yang lalu mencapai puncak Cartenz di Irian Jaya, kami memutuskan untuk tahun 2009 untuk ke Gunung Kilimanjaro (5895 mdpl) yang berada di benua Afrika (tepatnya Tanzania), menjadi tujuan berikutnya. Persiapan pun mulai dilakukan, mulai dari pendanaan, perizinan, publikasi, latihan, dan lain-lain. Pada masa pengerjaan awal kegiatan ini, memang menyita waktu cukup banyak para panitia pelaksana, sehingga saya dan beberapa rekan pun memutuskan untuk berhenti sementara kuliah, yah untungnya tinggal skripsi saja saat itu. Tentunya, pengorbanan yang ada juga memberikan pengalaman dan pelajaran yang berharga bagi para pelaku kegiatan ini. Perjuangan yang sungguh-sungguh dan kerjasama yang solid antara tim manajerial dan pengurus, akhirnya mampu melewati berbagai rintangan yang sempat menghambat kelancaran pelaksanaan ekspedisi. Pengalaman berharga seperti audiensi dengan menteri, petinggi perusahaan maupun pejabat pemerintah daerah setempat pun dijalani, hal ini merupakan kebanggan tersendiri tentunya, karena belum tentu semua mahasiswa akan mengalaminya.

Setelah menjalani persiapan manajerial formal dan struktural serta karantina selama kurang lebih 8 bulan, impian kami pun terwujud, pada tanggal 10 November 2009, tim Wanala UA berhasil mengibarkan bendera merah putih di puncak tertinggi Afrika bersamaan dengan peringatan Hari Pahlawan. Dengan adanya keberhasilan tersebut, kami pun mendapatkan ucapan selamat dari beberapa pihak terkait serta pemberitaan di media massa yang cukup banyak. Tidak hanya itu, yang paling membanggakan adalah pada saat tiba di Surabaya, kami mendapatkan penghargaan sebagai mahasiswa berprestasi tingkat internasional pada saat perayaan Lustrum ke-XI Universitas Airlangga. Hal tersebut membuat jerih payah kami tidak sia-sia, karena mendapatkan reward yang istimewa dari pimpinan Universitas.

Jika di ingat-ingat, banyak cerita yang mengharukan selama pendakian ke atap Afrika tersebut. Beratnya medan dirasakan pada saat mencapai ketinggian 3500 mdpl ke atas, dinginnya suhu sekitar serta semakin tipisnya oksigen, membuat kami harus berjalan dengan pelan-pelan. Walaupun kami latihan fisik selama di Indonesia, tetap saja kami harus terengah-engah pada saat berada di ketinggian tersebut, karena tidak biasa tinggal di ketinggian tersebut. Walaupun perjalanan melelahkan, kami juga terpukau dengan pemandangan yang tersaji selama pendakian, kami dapat melihat dari kejauhan puncak gunung yang diselimuti salju tersebut, beberapa tanaman yang asing bagi kami terlihat sangat menawan, hal ini ditambah dengan keelokan langit Afrika yang terkenal berawan tebal dan berlatar belakang biru yang sangat cerah.

Secara keseluruhan, pendakian saat itu menghabiskan waktu selama 8 hari, karena kami menggunakan jalur Lemosho yang merupakan jalur terpanjang, dan menggunakan jalur Mweka untuk turun, selain menggunakan jalur terpanjang, kami juga menjadi pendaki yang berasal dari Indonesia yang pertama kali mencapai Shira Peak yang merupakan puncak tertinggi ketiga di kawasan gunung tersebut. Pengalaman berharga juga didapatkan dari hubungan dengan anggota tim kami lainnya, yaitu porter dan guide yang terlihat sudah sangat sering mendaki Gunung Kilimanjaro, sehingga mereka sangat hafal dengan keadaan lingkungan sekitar, kami juga sempat terheran-heran dengan kemampuan porter setempat yang mampu membawa barang seberat 30-40 kg dengan menggunakan kepala mereka. Selain itu, mereka juga sangat menjaga kebersihan gunung tersebut dengan selalu mengumpulkan sampah yang ada di wilayah camp kami, hal ini sangat berbeda dengan sifat pendaki di Indonesia yang rata-rata kurang memperhatikan kebersihan lokasi camp saat mendaki gunung.

Ujian terberat pendakian bagi saya adalah pada saat tengah malam harus berjalan menuju puncak, karena saya terserang penyakit gunung (Mountain Sickness), saya merasa sangat lelah dan kedinginan, nafas terasa berat, serta pusing yang hebat, sempat berpikir untuk kembali ke camp dan tidak meneruskan perjalanan, tapi berkat dukungan dari teman-teman serta guide, aku pun berusaha untuk berjalan terus, setapak demi setapak. Hingga akhirnya sampai puncak, saya dan teman-teman pun bersyukur, untuk mengucapkan terima kasih pada Tuhan. Kami sangat bangga akhirnya dapat memijakkan kaki di puncak ini, berarti tinggal 5 puncak lainnya yang belum diselesaikan, yaitu Gunung Elbrus di Rusia, Aconcagua di Chili, Mc Kinley di Amerika Utara, Vinson Massif di Antartika serta Everest di Nepal.

Sekarang mimpi itu, secara perlahan pun mulai diwujudkan, setelah keberhasilan pada pencapaian puncak Kilimanjaro, selanjutnya tahun depan pada 2011, beberapa adik-adik saya di Wanala berencana mendaki Gunung Elbrus (5642 mdpl) di Rusia, keseriusan terlihat dari sudah terbentuk dan bekerjanya panitia pelaksana sejak bulan Agustus 2010 dan dikeluarkannya izin dari rektorat.

Wanala akan terus melangkah, menorehkan prestasi untuk almamater dan tanah air tercinta ….