Sejak di luncurkannya Surabaya Heritage Track (SHT) di House Of Sampoerna (HOS), aku sudah berencana untuk mencobanya, waktu itu bertepatan dengan jenuhnya panitia kegiatan ekspedisi di Wanala, sehingga akun pun berencana untuk reservasi tempat, untuk panitia inti dengan tujuan untuk sekedar refreshing.

Tapi sayang, setelah aku mengumumkan rencana ini, yang tertarik hanya 3 orang, jadinya hilang deh gairah jalan-jalan, dan bisa ditebak akhirnya, rencana hanya sekedar rencana, aku tidak jadi untuk menikmati tempat bersejarah di Surabaya bersama rekan-rekan panitia kegiatan ekspedisi tersebut.

Satu tahun berlalu, akhirnya keinginan itu terwujud pada tanggal 15 Februari 2011 yang bertepatan dengan tanggal merah (libur kerja nih ceritanya…hehe). Hari itu aku  meluncur ke lokasi (HOS) jam 14.10 untuk mendapatkan jatah tiket Surabaya Heritage Track yang jalan jam 15.00, walaupun menjadi waiting list saat itu, karena tempat sudah penuh karena reservasi orang lain sebelumnya, jadi cuman bisa berharap ada yang ndak datang……..

Selama di House Of Sampoerna (daerah Kalisosok/Taman Sampoerna 6), ada waktu 30 menit yang kami manfaatkan untuk melihat museum di lokasi tersebut. Museum yang berasitektur Belanda ini ini didirikan pada 1862, kemudian di beli oleh Liem Seeng Tie (pendiri Sampoerna) pada tahun 1932 yang akhirnya dijadikan tempat produksi pertama rokok jenis kretek. Selain museum, galeri seni dan kios souvenir, bangunan disini yang sekarang terbuka untuk umum juga digunakan untuk café (sisi timur) dan tempat peristirahatan keluarga (sisi barat). Di museum, beberapa koleksi seperti sepeda tua, milik Liem Seeng Tie yang digunakan semasa hidupnya juga ada, sepeda ini ditemukan di rumah Liem Seeng Tie di daerah Prigen-Pasuruan.

Benda lain yang menarik adalah sebuah sepeda motor tua buatan Cekoslovakia tahun 1946, berkapasitas 248 cc ini dinamakan perak. Model sepeda motor ini pernah juga memenangkan medali emas di Paris Motor salon tahun 1946.

Di lantai 2, tempat kios souvenir berada, kita dapat melihat proses produksi rokok yang di linting (merk Dji Sam Soe) langsung oleh pekerja wanita sebanyak 3.200 orang, tempat ini menghasilkan 325 batang rokok per jam. Sayangnya, saat berada di sana sedang libur, karena tanggal merah.

Selain bisa menikmati koleksi di tempat tersebut, tentunya dengan penataan yang apik, museum tersebut membuat betah setiap pengunjungnya, tata cahaya lembut yang ada membuat tempat tersebut terasa nyaman untuk disinggahi , hal ini di dukung dengan adanya keterangan penjelas di setiap titik benda-benda yang dipamerkan (foto, mesin, sepeda, tembakau, piagam-piagam, dll).

Puas melihat-lihat, kami segera menuju Tracker Information Center (TIC) untuk menanyakan kursi di bis SHT, dan ternyata ada reservasi yang tidak terisi, wah senang sekali, karena kali ini track nya (sesuai jadwal) adalah ke klenteng-klenteng di Surabaya (Boen Bio, Hong Tiek Hian), karena masih berbau peringatan imlek.

Tapi apa kemudian kenyataannya??, setelah aku tanya ke petugas di bis, ternyata track kali ini hanya ke Tugu Pahlawan dan PTPN XI (selidik punya selidik, ternyata rute klenteng jam 13.00 tadi). Tapi hal tesebut tidak membuat aku menyesal, karena ada sisi pandang yang “beda” terhadap Surabaya dengan cara baru, yakni dengan naik bis unik yang didominasi warna merah ini, yang di desain mirip trem di zaman dulu kala (tahun 40-an), dimana di jalanan kota Surabaya waktu itu, masih banyak terlihat trem berlalu lalang, beriringan dengan moda transportasi darat lainnya.

Di dalam bis ada pengunjung sekitar 20 orang, dimana salah satu diantaranya adalah seorang adalah bule dari Prancis. Perjalanan di mulai lukul 15.10, dengan tujuan Tugu Pahlawan sebagai tempat pertama dan PTPN XI sebagai tempat tujuan kedua.

Di Tugu Pahlawan ini, yang sebenarnya aku sudah sering mampir pada malam hari untuk sekedar berjalan-jalan di malam hari untuk melihat tempat ini, tapi baru kali ini aku datang sore hari serta masuk ke dekat museum, yang terlihat kurang terawat rupanya, karena kebersihan yang kurang dijaga dengan baik, tentunya karena di tempat tersebut terlihat banyak coretan, debu-debu dan sampah yang tercecer maupun cat yang mengelupas. Tapi masih ada yang menghibur, karena aku dapat melihat beberapa anak seumuran SMA yang sedang latihan baris-berbaris disini, hal ini menunjukkan adanya keterbukaan bagi publik untuk beraktifitas di area tersebut, karena beberapa bulan yang lalu, pagar yang mengelilingi lokasi tersebut jadi perdebatan, apakah harus di bongkar ataupun dibiarkan seperti keadaaan sekarang.

Selain tugu dan museum, terdapat pula patung-patung yang menjadi simbol peringatan proklamasi, yakni dengan adanya patung Bung Karno dan Bung Hatta yang membaca teks proklamasi, lokasinya berada di dekat pagar, tepatnya di dekat pintu masuk menuju lapangan dan tugu sisi Selatan). Keberadaan relief –relief yang bercerita tentang sejarah Indonesia (Surabaya terutama) seperti perjanjian Linggarjati, Pertempuran 10 Nivember maupun pergerakan cak Durasim yang mempopulerkan promosi budaya daerah dengan media kidungan dan ludruk.

Setelah 15 menit, perjalanaan dilanjutkan ke PTPN XI di Jl. Merak No 1. Bangunan yang dibuat pada 1920

Ini merupakan bekas milik HVA (Handelsvereeniging Amsterdam). Perancangnya adalah biro arsitek terkenal dari Batavia, Hulswit, Fermont & Ed. Cuypers. Gedung HVA merupakan komplek gedung yang terbesar di Surabaya pada jamannya.

Kemegahan memang tampak sesaat kita masuk ke dalam, gaya arsitektur yang terlihat anggun ini ternyata masih terawatt dengan baik. Setelah mendapatkan sedikit penjelasan dari guide, rombongan naik ke lantai 2. Di atas terlihat ruangan direktur utama, staff, mushola, dll, tapi sayang terlihat sampah yang berserakan saat itu di bagian luar. Sajian taman cantik di luar dapat di lihat dari sisi luar gedung yang didominasi warna coklat dan abu-abu serta bahan kayu dan bebatuan kecil ini.

Setelah menikmati isi gedung, rombongan keluar dan banyak yang berfoto-foto di lapangan depan gedung.

Setelah puas, kami kembali ke House Of Sampoerna jam 17.00…