Kembali, acara keren diadakan di Ibukota. Kali ini giliran Tim Mahitala-Unpar Bandung yang meluncurkan buku bagus mengenai aktivitas alam bebas yang benar-benar mantab , dan tentunya wajib dibaca untuk kalangan penggiat alam bebas maupun masyarakat umum.

Datang ke acara tersebut, di ruang Auditorium, Kompas Gramedia-Jakarta di Palmerah barat tepat pada jam 11.15, dan kebetulan saya berbarengan masuknya dengan Menpora, bapak Andi Mallarangeng (apa hubungannya coba????). Acara diadakan di tempat tersebut karena memang peluncuran buku yang berjudul “ Pucuk Es di ujung Dunia-Pendakian 7 puncak benua” bekerjasama dengan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), dengan editor Rudy Badil dan Sani Handoko.

Kesan betapa membanggakannya dari aktivitas pendakian gunung mereka ini, terlihat dari depan (penerima tamu), dimana beberapa foto mereka pajang, serta di dalam ruangan yang terdapat background 6 puncak yang telah di daki oleh tim Mahitala (Cartensz, Kilimanjaro, Elbrus, Vinson Massif, Aconcagua serta Everest). MC pada Press Conference pendakian ke Denali (Amerika Utara) dan peluncuran buku tersebut dipandu oleh Olga Lydia (weeiii….lumayan cuci mata nih…hehe).

Sambutan diberikan oleh Bpk Andi Mallarangeng selaku Menpora, Dr. Cecilia Law selaku rektor Universitas Parahiyangan. Dimana beliau-beliau memberikan sambutan yang intinya memberikan suntikan dorongan pada pemuda Indonesia untuk berprestasi di bidangnya, untuk memberikan kebanggaan pada bangsanya di mata internasional. “Kegiatan pendakian ini memang akan membuat “iri” penggiat alam bebas alam lainnya, tapi kan dalam bentuk yang positif untuk berlomba-lomba menjadi summiter (pendaki 7 puncak tertinggi di dunia) pula, “terang Bpk Andi. Dengan berlomba-lombanya penggiat alam untuk mengejar prestasi yang sama dengan Mahitala, maka semakin bagus untuk pembentukan karakter rakyat Indonesia, pada khususnya para pemuda.

Setelah sambutan disampaikan, penyerahan bendera merah putih secara resmi dilakukan, dengan maksud untuk pelepasan secara simbolis rencana perjalanan selanjtnya, ke puncak yang terakhir ke Gunung Denali di Alaska. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan tanya jawab antara tim atlet dengan audience maupun wartawan yang mendominasi kehadirannya pada acara ini. Tim atlet yang dihadirkan juga lengkap, mereka adalah Janatan Ginting, Xaverius Frans, Sofyan Arif Fesa dan Broery Andrew Sihombing. Singkat cerita, pendakian mereka yang dimulai tahun 2010 ini mengorbankan kuliah dengan jalan cuti minimal selama 1 tahun, dari cerita mereka pula, pendakian terberat adalah ke Everest karena disana butuh tabung oksigen untuk bantuan pernapasan, paling kering kelembabannya, memakan waktu 5 minggu untuk aklimatisasi di Nepal (sebelum ke base camp), tentunya hal ini secara mental juga membuat jenuh masing-masing personil. Menurut mereka pula, dalam pendakian ke 7 titik tertinggi dunia ini, yang paling penting adalah persiapan mental karena menentukan keberhasilan kegiatan serta tenaga terakhir yang dikeluarkan pada saat fisik sudah terlalu lelah untuk melangkah, maka semangat dan daya juang menjadi tenaga terakhir yang bisa diharapkan.

Persiapan kegiatan ini dimulai pada tahun 2008, oleh karena dana kegiatan sudah didapat dari PT. Mud King selaku sponsor utama, maka persiapan terberat untuk sisi manajerial adalah penentuan waktu yang tepat untuk pendakian, karena berhubungan dengan pihak guide masing-masing tempat serta komunikasi yang sering terhambat antara tim Indonesia dengan tim pendakian.

Banyak cerita menarik, yang tentunya sebaiknya anda baca sendiri di buku tersebut (bukan bermaksud promosi)….anyway, buku dan foto2 nya memang bagus kok …..hehe…