Di penghujung bulan. Jumat, 30 September 2011.

 

Jam kerja pun selesai, saat itu menunjukkan jam setengah 6 sore.

Setelah sholat, aku turun ke tempat parkir mengambil motor.

 

Aku pun melanjutkan perjalanan menuju c2o, kebetulan hari ini ada acara nya fresh Surabaya (freedom of sharing Surabaya)yang membahas tentang travelling. Untungnya aku sampai di tempat, acara belum dimulai. Setelah registrasi, aku pun mengambil tempat pas di tengah (lesehan, beralas tikar) = sederhana dan asyik. Oh ya, fresh Surabaya adalah suatu komunitas yang mempunyai ketertarikan aktivitas di industri kreatif, mereka sering mengadakan diskusi bulanan dengan tema yang berbeda-beda (baru tahu, setelah dijelaskan mc nya..hehe).

Obrolan ini, atau lebih tepatnya sharing pengalaman ini ternyata banyak yang hadir, aku lihat sekitar 50 orang lebih yang datang (wah rupanya yg doyan travelling juga gak dikit di Sby🙂.

 

Sebagai pembuka ada Mas Andy Kristiono,yang merupakan dosen arsitektur UC, kebetulan dia seorang traveller, yang kebanyakan tujuan jalan-jalannya ke negara2 di Asia seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam atau Cina. Beliau banyak memberikan tips mengenai bagaimana cara mendapatkan tiket pesawat murah, akomodasi serta tempat makan yang murah di tempat-tempat yang pernah dikunjungi tersebut (lengkapnya liat di liburanmurah.info)

 

Untuk pesawat, paling murah biasa gunakan Air Asia, dan musti mau begadang mulai dini hari sampe jam 4 subuh untuk dapat tiketnya (karena waktu booking, gak langsung dapat dalam beberapa menit…wuihhh). Dari cerita mas Andy juga, biaya untuk ke negara-negara tersebut umumnya kita musti merogoh kocek sebesar 1-2 juta, itupun menginap di hotel paling murah dan makan di kaki lima.

 

Narasumber kedua dari komunitas Jejak Petjinan (Sby), yang dikomandani Paulina Mayasari. Mbak yang satu ini kalo bercerita juga lucu, mungkin karena gugup :)…hehe. Komunitas ini fokus pada travelling dg tema budaya, khususnya menelusuri jejak-jejak Tionghoa di Surabaya dan juga Indonesia, baik yang masih ada ataupun sudah terkubur seiring perubahan jaman. Dari mbak Maya ini pula aku baru tahu, kalau ternyata di pesisir utara Sumenep banyak ditinggalkan bukti-bukti peninggalan orang tionghoa, hal ini dibuktikan dengan adanya klenteng, keberadaan cemara udang (khas Cina) dan makam raja Sumenep yang identik dengan ukiran dan simbol-simbol Cina. Dan juga, ternyata di tempat tersebut menjadi tempat para pendatang dari Cina yang merantau dan berdagang, dan kebanyakan menikah dengan wanita setempat (dulunya).

 

 

Kemudian, narasumber terakhir adalah Ayos Purwoaji, yang merupakan petualang ACI (Aku Cinta Indonesia) dan anggota hifatlobrain.net. Mas yang berkacamata satu ini, bercerita tentang bagaimana tips mendokumentasikan perjalanan kita, baik melalui tulisan, foto maupun video. Dari sini bisa ditangkap, dalam jangka panjang, kebutuhan akan internet akan meningkat terus. Jadi jika kita bisa mendokumentasikan cerita perjalanan kita, maka dapat dijadikan bahan-bahan yang bermanfaat yang bisa kita sharingkan dengan orang lain. Tentunya, untuk kita pribadi bisa dijadikan memory album yang bisa kita nikmati saat tua.

 

 

Dari cerita2 tersebut, memang masuk akal kita travelling ke negara2 tetangga, karena pada kenyataannya lebih murah dibandingkan kita ingin berkeliling ke Indonesia (coba tengok berapa biaya ke Raja Ampat, minimal 3 juta tho?!). Tapi, bagaimana pun saya juga punya banyak PR untuk menikmati alam dan budaya negeri sendiri, eh iya, jangan lupa dengan Sby, karena banyak tempat di Surabaya yang belum kita pahami sejarahnya…betull???

 

Jadi, ketika kita sudah banyak tahu tentang Sby dan tempat2 bersejarahnya, suatu saat jika ada rekan kita yang butuh guiding jalan2 di Sby, kita pun siap..he🙂