Kuliah tjokroaminoto? Apa sih?

 

Saya baru mengikuti ‘kuliah’ ini pertama kalinya pada tanggal 1 Oktober 2011, padahal selama masa kuliah dulu saya sering dengar info mengenai diadakannya acara ini, tapi itu pun tahu setelah acara selesai digelar…haha, tapi emang di fakultas tempat saya kuliah, jarang melihat ‘tempelan’ mengenai publikasi acara ini. Tapi toh ada publikasi nya pun, paling-paling juga jarang lihat, lha gimana lagi, udah jarang kuliah sih, saat itu masih jungkir balik dengan skripsi yang udah lama ditunda (hehe…tdk untuk ditiru !!!)

 

Saya mengikuti kuliah Tjokroaminoto yang digagas oleh kebanyakan aktivis dan dosen FISIP Unair ini pada saat perayaan hari kebangkitan nasional yang jatuh pada hari pertama di bulan OKtober 2011. Waktu itu tema yang diambil adalah rumah kebangsaan, dan sesuai dengan lokasi kuliah terbuka ini berlangsung, yakni di rumah bekas yang dulunya di huni oleh HOS Tjokroaminoto di jl. Peneleh 29-31, Surabaya. Tidak hanya itu, rumah bersejarah tersebut juga pernah dihuni oleh Bung Hatta dan Bung Karno. Saya datang jam 19.15 dan belum dimulai ternyata, sambil menunggu saya sempatkan makan krengsengan di dekat daerah tersebut, tepatnya di sisi utara jembatan peneleh, yang ternyata masakan warung sederhana tersebut sangat enak…..mantabb.

 

Kira- kira jam 19.50 acara pun dimulai, kebetulan yang membuka pak Basis Susilo (Dekan Fisip) sendiri, serta pak Bambang Suhendro, perwakilan dari komunitas Surabaya Juang selaku penggagagas acara. Kuliah terbuka dengan pembawaan yang santai ini (karena tidak di dalam kelas) di moderatori oleh Pak Suko Widodo. Pembicara terdiri dari Joko Susanto, Pinky Saptandari, Kartolo, Gus Ipul, Fitradjaja Purnama serta Haryono Sigit (cucu HOS Tjokroaminoto).

 

Paparan masing-masing pembicara berkutat pada pentingnya demokrasi, kebangsaan, maupun wawasan mengenai nusantara. Seperti apa yang diungkapkan oleh pak Joko Susanto, sebagai salah satu pondasi bagi berlangsungnya kehidupan yang majemuk adalah harus selalu belajar menerima akan adanya perbedaan, dari masing-masing individu diharuskan memiliki sifat tersebut, karena belum ada institusi khusus yang bersifat formal yang mengajarkan mengenai perbedaan. Selalin itu, kemampuan memilih dan memilah juga menjadi sesuatu yang penting, karena diharapkan jika sudah melalui proses tersebut, maka kita dapat meramu budaya ataupun pengaruh yang bersifat agama dari luar, agar tidak serta merta menerima langsung mentah-mentah, yang pada kenyataannya tidak sesui dengan karakter dan kebiasaan masyarakat. Jika dianalogikan tanaman, Negara kita adalah padi, dimana harus selalu dirawat, diatur agar tumbuh subur, dan bukan bonsai yang dikerangkeng dan menjadi kerdil, bahkan juga bukan ilalang, yang hidupnya bebas tanpa aturan.

 

Gus Ipul memberikan penjelasan bagaimana pentingnya demokrasi berjalan, seperti adanya pemilihan kepala daerah secara langsung, walaupun masih terjadi banyak pro kontra, tapi bentuk itu adalah suatu kemajuan yang di dapat dibandingkan cara sebelumnya. Pencapaian keadilan juga penting bagi mansyarakat, setelah adil itu terwujud, maka kemakmuran adalah tujuan yang harus diwujudkan. Dilanjutkan dengan penjelasan dari bu Pinky, bahwa masyarakat degan keunikan yang variatif, juga diharapkan mampu menciptakan karya yang aktual sesuai bidang masing-masing.

 

Tidak berhenti disitu, sajian menarik malam itu dilanjutkan parikan cak Kartolo yang materinya berisikan sindiran, kritik serta tidak lupa pesan-pesan positif untuk pembangunan yang berkelanjutan. Parikan tersebut dilengkapi dengan suluk oleh Ki Sudrun, wah jadinya perpaduan yang luar biasa. Dan cak Fitra pun setuju bahwa kebangsaan dalam berkesenian rakyat juga tidak boleh ditinggalkan, karena merupakan salah satu urgensi dalam pelestarsian budaya sekaligus sejarah.

 

Ke depannya, diharapkan banyak dihasilkan manusia manusia sebagai sosok penganjur, bukannya provokator maupun penasehat, yang hanya mampu menyelesaikan masalah di permukaan saja.