Mengikuti agenda acara yang diadakan CCCL memang tidak ada ruginya, karena memberikan angin segar setelah seharian bekerja…hehe. Salah satunya adalah perjumpaan dengan suku Kamoro-Papua. Acara yang diselenggrakan CCCl ini merupakan kerjasama dengan seorang etnolog dan fotografer terkenal, Dr. Kal Muller, yang sudah bersama suku ini selama kurang lebih 12 tahun.

 

Suku kamoro tinggal di sisi selatan Papua, tepatnya di 2sepanjang pesisir laut Arafuru, dan berjumlah kurang lebih 118.000 jiwa. Perbedaan mencolok dengan suku lainnya adalah bahwa suku ini lebih ramah dan bersahabat dibandingkan yang lain, hal ini dikarenakan mereka tidak menyukai perang. Hampir sama dengan suku lainnya, seorang wanita di sana mempunyai tugas untuk mencari makan, terutama di kawasan hutan bakau, sekaligus mengolahnya. Sedangkan pihak suami atau pria, melakukan perburuan untuk mendapatkan daging binatang.

 

Kelebihan suku ini juga terletak pada kemahirannya membuat ukiran, terutama pada media kayu. Tentunya keahlian ini tidak dimilki setiap orang, hanya beberapa orang yang memilkinya, tentunya yang memilki bakat seni ataupun yang berkemauan besar untuk belajar sajalah yang berhasil menjadi pengukir yang mahir.

 

Menurut Kal Muller, mereka tidak mutlak memerlukan pendidikan formal layaknya masyarakat Indonesia pada umumnya, tapi memang seharusnya ada beberapa orang pilihan saja yang di utus untuk belajar pendidikan formal di bidang politik, ekonomi ataupun bahasa, hal itu untuk memajukan kualitas suku agar tidak kalah dengan yang lain, terutama saat ada perebutan wilayah.

 

Selain adanya dialog di acara tersebut, juga diputarkan beberapa video yang berisikan mengenai Suku Kamoro pada saat berburu, upacara, atau bahkan membuat patung ukiran. Tentunya juga penampilan langsung mereka, yakni tarian yang diiringi tabuhan Tifa serta adanya pameran beberapa hasil karya seni ukir suku tersebut.