Hari 1 (15 Sept 2012)

Akhirnya, jalan lagi ke pantai. Kali ini tempat yang dituju adalah kawasan Malang Selatan. Sesuai rencana dengan teman-teman kos, kami sepakat berangkat ke Goa Cina dan badjul mati untuk camping. Karena ke pantai, otomatis persiapan nya tidak seribet mau naik gunung J

Dengan berbekal kompor lapangan dan flysheet sudah cukup untuk akomodasi yang nyaman di tepi pantai nantinya.

Kami berlima berangkat dari Surabaya jam 20.30, saya berboncengan dengan Ade, terus Ahyat dan Bang Toyib, sedangkan mas Imam sendirian, karena Gista tidak jadi ikut. Perjalanan menuju Malang, cukup lancar karena jalanan sepi, untuk istirahat perjalanan kami berhenti 2 kali untuk sekedar minum air putih. Untuk mengurangi kepenatan perjalanan, lagu Andra & The Backbone aku pilih sebagi pengiring perjalanan.

Tiba di Malang, kami mampir di warung kopi Solo Rasa di daerah Soekarno Hatta yang ternyata ada acara akustik, kebetulan tiap hari Jumat acaranya. Wah, ide cemerlang karena walaupun warung lesehan, harga kopi gak mahal, ada live music yang menghibur, dua jempol untuk si pemilik. Selesai ngopi, kami menuju kos Mas Roni, di daerah UMM yang dijadikan tempat bermalam, ternyata tempat  nya ini bekas kos bang Thoyib kos semasa kuliah di UMM. Jam saat itu sudah menunjukkan hampir jam 1 malam, kami langsung tidur pulas di kamar yang disediakan *koyo hotel ae….*

Hari 2

Sarapan dulu sebelum berangkat
Sarapan dulu sebelum berangkat

 

Tempat pertama yang kami datangi adalah pantai Sendang Biru. Lokasi nya dari Malang kota ditempuh perjalanan sekitar 2,5 jam, dengan medan naik turun. Jalan aspal nya cukup bagus, walaupun dibeberapa titik ada aspal yang rusak. Sesampainya di Sendang Biru, kami mampir di warung milik Pak Mamik untuk sejenak melepas lelah dengan secangkir kopi.

Sendang biru merupakan salah satu pantai yang di kelola pemkab untuk dijadikan tempat wisata, karena di sini terdapat TPI yang cukup besar, selain itu terdapat juga cagar alam Pulau Sempu yang juga jadi tujuan utama para pengunjung untuk liburan.

sendang biru
sendang biru

Kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan ini terdiri dari kapal Sleruk, dan kapal kecil lainnya. Wilayah ini didominasi pendatang dari Bugis maupun Madura, selain warga asli Malang tentunya. Dari pembicraan dengan pekerja di kapal yakni Mas Didik yang kebetulan orang Surabaya, setidaknya dia mengantongi pendapatan minimal 3 juta per bulan, jika sedang beruntung bahkan mencapai 5 juta per bulan. Selain pendapatan yang lumayan besar, kehidupan antar nelayan yang rukun dan bersahabat ini lah yang membuat mas Didik betah bekerja walaupun terkadang di tengah laut lepas bahaya juga terkadang menghadang, dan tentunya ada resiko jauh dari keluaraga. Seminggu sekali mas Didik menyempatkan untuk pulang ke Surabaya.

Saat ngobrol dengan saya, mas Didik sibuk menggulung senar ke jarum besar yang digunakan untuk menjahit jaring raksasa untuk menangkap ikan, kenapa raksasa? Bayangin aja panjangnya 500 meter, untuk mempersiapkan melaut,  dibutuhkan setidaknya 10 orang  pekerja. Selain itu harga jaring bekas ini saja 120 juta, wow. Hitungan melaut yang pasti adalah per 15 hari, saat bulan purnama serta bulan habis (hitungan kalendr jawa). Untuk menetukan posisi ikan, tidak menggunakan radar maupun GPS,tapi cukup melihat kilatan cahaya seperti lampu neon di laut, dimana kilatan sinar tersebut menandakan adanya gerombolan ikan berkumpul, untuk menangkap ikan pun dibutuhkan 2 kapal, yang satu membawa jaring dan yang satunya lagi untuk menangkap ikan.

Bahu membahu menyiapkan jaring utk melaut
Bahu membahu menyiapkan jaring utk melaut

Tapi saat musim hujan, dimana ombak di laut cukup basar, mas Didik memilih bekerja di Surabaya. Cerita lainnya, ada beberapa kapal yang ukuran kecil, yang biasanya digunakan untuk memancing ikan Tuna, yang katanya bahkan bisa menangkap ikan Tuna seukuran saya, caranya dengan memasang umpan yang di atasnya diberikan jerigen 30 liter, saat ikan memangsa umpan nelayan akan membiarkan ikan hingga kelelahan atau bahkan mati, ikan lelah karena menarik pelampung yang berupa jerigen hampa udara (ingat pelajaran IPA mengenai tekanaan dalam air kan?!). selain itu, kami juga melihat aktivitas  pembuatan kapal seharga 250 juta di tenpat ini, yang kira kira panjangnya 15 meter. Kapal ini merupakan pesanan seseorang pengusaha, yang akan diselesaikan selama 3 bulan, berbahan kayu jati semuanya.

Selesai menikmati kawasan tersebut, kami mencari ikan untuk bekal makan siang dan malam hari, dengan bantuan pak Mamik, kami memanggang ikan tuna di belakang warung. Ikan seberat 2 kg tersebut terlihat menggoda perut kami yang kelaparan, apalagi dibakar orang yang berpengalaman, terlihat matangnya rata dan bau harum bumbu yang menggoda J. Selepas itu kami beli nasi bungkus untuk di makan di patai Badjul Mati, tujuan selanjutnya.

Sudah tidak sabar utk melahapnya
Sudah tidak sabar utk melahapnya

Lokasi badjul mati ditempuh selama 20 menit perjalanan naik motor, jalan aspal di tempat tersebut masih baru dan terlihat bagus sekali sehingga cukup nyaman kami berkendara. Sesampainya di badjul mati kami menggelar lapak (emang jualan?!) dengan ponco dan flysheet, setelah itu kami  masak mie goreng untuk melengkapai menu nasi dan ikan bakar yang sudah menanti.

Lengang nya jalanan
Lengang nya jalanan

Secara keseluruhan pantai ini sangat indah, karena memiliki pasir yang bersih serta tebing kecil yang berada di tengah laut, jadi terkesan seperti pulau pulau kecil di seberang. Di dekat kami terdapat bangunan lama yang isinya mesin diesel serta pipa-pipa besar, yang ternyata setelah kami tanyakan, itu adalah alat untuk mengalirkan air laut ke tambak-tambak mereka yang berjarak 1 Km dari bibir pantai. Karena sedang surut kami belum menikmati mandi kami di pantai dengan puas, selebihnya hanya melihat 1 keluarga yang sedang mencari keong dan kerang untuk dijual kembali.

Kenyang :)
Kenyang🙂
Wajah Badjul Mati
Wajah Badjul Mati


Setelah puas di pantai ini, jam 15.00 kami ke pantai Goa Cina yang dapat di tempuh 15 menit dari Sendang Biru. Oh ya di tengah perjalanan kami juga melihat ada petani yang sedang panen singkong, dengan sedikit basa basi untuk pura pura membeli, kami malah di kasih gratis untuk mengambil singkong he he (terkabul juga makan singkong bakar nanti malam).

Wajah Badjul Mati

Dari jalan raya, masuk ke Goa Cina melewati jalanan berbatu (makadam : istilah jawa) selama 15 menit, di jalanan kecil ini masih terdapat rumah penduuk yang jaraknya berjauhan antara yang satu dengan yang lain. Tiba di pos penjagaan, kami dikenakan biaya 30 ribu untuk 6 orang dan 3 motor, tapi dengan sedikit rayuan, dengan mengaku kami mahasiswa mau survey, kami ditarik cuman 20 ribu (luamayan lah). Di pos selanjutnya yang dekat dengan pantai kami di kenakan per motor 5 ribu untuk menginap satu malam.

Ternyata lokasi pantai ini agak ramai, ada sekitar 25 pengunjung, dan terlihat juga seorang pasangan yang sedang mengambil foto untuk sesi pre wedding.

 Bersambung ………………………….