Melihatnya terbaring sakit di atas ranjang, di sebuah rumah sakit (Husada Utama). Perasaan kasihan dan ingin tertawa muncul bersamaan, walaupun perasaan sedih menjadi yang dominan. Ingin tertawa “bukan menertawakan (maksudnya)’’ muncul karena bapak yang satu ini memang tidak selayaknya terbaring tak berdaya, mengingat kesehariannya memang orang yang sangat bersemangat dan punya joke-joke yang lucu dan terkadang garing, padahal usia juga tidak muda lagi (lansia).

Ya, Stroke. Walaupun masih gejala, tangan dan kaki kanan pak Tojo pun untuk sementara lumpuh, dan penyakit tersebut mampu membuat senyum dan keriaangan beliau hilang. Gurat wajah kesedihan beliau terlihat begiu jelas, walaupun saya juga sesekali bercanda untuk bercerita tentang kenangan beliau semasa aktif membina Wanala. Beliau adalah orang terlama yang membina Wanala, sejak tahun 80’an beliau sudah aktif, dan hingga usia pensiun beliau, setelah purna tugas mengajar di FISIP Unair. Tapi, walaupun sudah pensiun, beliau ternyata masih sering terlihat mengajar di Stikosa AWS dan UPN, dan aku pernah lihat juga bawa sepeda motor sendiri, luar biasa berani (kenapa???maklum, di jalanan kota ini kan banyak pengendara yang kurang berhati-hati saat mengendarai motornya).

Beberapa hal yang bisa diingat dari beliau salah satunya adalah Jati mas. Tanaman tersebut diberikan saat Wanala melaksanakan diklat pada tahun 2008, beliau menamai angkatan Jati mas, dan sebagai simbolnya adalah ditanamnya sebuah pohon Jati mas yang di letakkan di depan gedung UKM yang lama, di kampus B. Entah sekarang, pohon itu masih ada atau tidak, terakhir melihat ya tahun lalu, pohon itu terlihat tumbuh tinggi sekitar 4 meter.

Beliau adalah panutan banyak orang, antar generasi di Wanala. Setiap anggota pasti kenal beliau sebagai orang yang berjasa banyak dalam perkembangan organisasi hingga usia 37 tahun saat ini, hingga menghasilkan berbagai prestasi di bidang kepecintaalaaman serta ilmiah. Setiap orang pasti tahu, bahwa wajah beliau tidak pernah berubah dari dulu, saya bisa lihat foto lamanya, dan terlihat orangnya juga tidak jauh berbeda dengan yang dulu, rambut putih, tersisir ke arah belakang rapi, dan juga botak  serta kacamata besar bening yang setia bersamanya.

Pertama kenal beliau dulu, sekitar tahun 2005, dan heran melihat beliau. Mengapa?? Beliau sangat ramah dan senang bercerita, tapi pembawaannya yang santai tersebut membawa saya dan teman-teman saat itu pada keakaraban yang hangat, bersama beliau kesan formal antara yang muda dengan yang tua juga hilang. Hingga suatu ketika, kami berkendara 1 mobil bersama, tak disangka kalau beliau malah lebih suka menggoda cewek cantik, yang kebetulan berpapasan dengan rombongan kami saat itu, kami hanya bisa hahahihi melihat tingkah polah nya, padahal yang muda hanya bisa ‘menikmati’ cewek tersebut dalam lamunan saja dan menggoda dalam hati. Dan itu tidak terjadi sekali saja, tetapi sering saat kita berkumpul santai di dekat parkiran UKM kampus B, dan hanya kalimat-kalimat gombal beliau yang direspon cewek-cewek yang lewat (ya jelas dung, udah dosen, senior pula), dan si cewek pun hanya bisa mesam mesem malu, beda dengan kalo kita yang godain thoh, pasti di cuekin (ya mesti.,lha, jaman itu kami jarang mandi….haha)

Dan, hingga hari ini aku masih bisa ingat, bagaimana kami berdiskusi banyak tentang suatu program, tapi tidak satu pun yang jadi kenyataan, mungkin kurang berjodoh karena banyak pendapat dari beliau yang tidak aku gunakan…hehe. Bukannya tidak bagus, tapi memang benar-benar sudah banyak program dan ide yang antri di kepala. Satu hal yang masih aku inget, saya juga punya hutang kepada beliau untu memberi foto rapat Wanala yag ada beliau di dalamnya, karena seingatnya, beliau tidak punya, yang ada hanya foto-foto di kegiatan alam bebas.

Semoga lekas sembuh pak Tojo.

Tuhan memberkati.