Kala itu hari masih belum gelap, ketika Echa ngajak ke Madiun. Aku juga bingung kok mendadak yaa..ada apa?

Dia bilang ada rencana ke makam kakek dan neneknya, dan besok pagi akan berangkat karena besoknya memang tanggal merah.

Karena gak ada acara juga, cuti gak jadi ya jadinya aku ikut juga menemani ke Madiun. Kami berangkat Rabu tengah malam dari terminal Purabaya.

Kami sepakat naik bus patas Ac saja agar nyaman istirahatnya, jadi keesokan hari bisa jalan-jalan habis dari makam. Perjalanan cukup lancar karena berangkat malam, jalanan tidak macet kecuali saat di Saradan, karena ada truk mogok waktu jalan menanjak. Turun Caruban, kami sholat subuh di masjid.

madiun (2)

Setelah sholat, kami jalan ke seberang untuk cari bus ke arah Madiun. Ya kira-kira 20 menit, kami sudah sampai di terminal Madiun. Dan kami memilih becak untuk menuju TMP Madiun kota yang jaraknya kira-kira 3 Km.

Karena masih pagi sekali, udara terasa segar dan sepanjang perjalanan kami terpesona juga dengan deretan rumah dinas yang bentuknya masih asli tinggalan zaman Belanda hehe, yang kebanyakan dihuni pegawai Pabrik Gula Redjo Agung. Beruntung pula kami melihat kereta lewat, yang keluar dari pabrik. Kereta ini biasa disebut lori, kebetulan saat itu membawa tangki minyak.
madiun (3)

madiun (5)

madiun (6)

Setelah dari makam, kami melanjutkan jalan kaki ke alun-alun untuk mencari sarapan dan membeli sedikit oleh-oleh.

madiun (7)

madiun (8)

madiun (10) madiun (12)

Sebelum pulang ke Surabaya, kami mampir makan siang di Saradan. Jadi naik bus dari terminal Madiun, kami turun Saradan. Di tempat makan kami mengisi perut dengan ikan panggang porsi jumbo hehe, setelah itu kami tidur kira-kira 2 jam, baru kembali ke Sby.

madiun (1)