Jangan dikira, setelah menikah minat kami pada jalan-jalan berkurang, malah sebaliknya he. Kebetulan bulan Mei kemarin ada 2 tanggal merah dalam 1 minggu. Tidak kami sia-sia kan tentunya, dengan berbekal cuti 2 hari, kami berdua dapat menikmati libur 6 hari hoho.

Tidak banyak pikir, kami segera diskusi nentuin tujuan liburannya dan Banyuwangi lah yang akhirnya terpilih, karena selain mempunyai spot2 yang oke, rencana kami liburan naik motor alias bikepacking menjadi realistis dibandingkan jika ke Lombok atau bahkan Flores.

Hari pertama tujuan kami, adalah kampung Batja milik pak Iman Suligi yang berada di jl. Nusa  Indah-Jember, mengapa? karena kami berdua sudah menyiapkan beberapa buku untuk disumbangkan serta ingin berwisata ‘rohani’ dimana tempat tersebut mampu memberikan suntikan bagi perbaikan hati dan pengetahuan atas gemerlapnya kehidupan perkotaan, halah.

Dari Surabaya, kami berangkat hari sabtu jam 16.30 karena masih masuk kerja setengah hari. Perjalanan kami lalui dengan santai, gak ngebut maksudnya. Istirahat di Probolinggo kota, kita makan nasi goreng, jam menunjukkan 8 malem, wah berarti sudah 3,5 jam kita lalui. Yang paling menantang adalah perjalanan setelahnya, karena sudah malam kami musti melalui hutan yang sepi, yang terletak di klakah dan jatiroto. Sepanjang perjalanan, gak ada lampu jalan (padahal ini jalan nasional) jadi kami sambil berdoa di atas motor agar selamat sampai tujuan (karena takut ada perampok). Untungnya perjalanan kami lancar, kami sempatkan istirahat di SPBU JatiSrono karena kecapekan, dan jam 10 malam kami lanjutkan perjalanan, sampai di Jember kota sudah jam 12 malam, fiuh. Tapi penerimaan pak Iman sungguh membuat kami sungkan, karena harus melek menunggui kami datang he.

Bangun pagi setelah istirahat di salah satu guest house yang kami tempati, kami bergegas jalan-jalan di kompleks kampung batja. Sungguh luar biasa, perjuangan pak Iman hingga mampu mendirikan tempat yang asri ini. Dulunya tempat ini adalah tegalan kosong yang tak terawat, dengan ketekunan beliau yang mempunyai latar belakang seniman (perupa), tempat ini disulap menjadi sebuah oase di tengah perkampungan padat penduduk, dari depan sendiri terdapat perpustakaan dan ruang baca terbuka. Sisi selanjutnya ada tempat semacam ‘bar’ yang beratapkan rumbia serta banyak majalah dan koran yang digantung, sisi kanan nya ada dapur kering yang digunakan untuk tamu maupun keluarga untuk menikmati makan. Di bagian selanjutnya, ada mushola, kamar tidur serta taman. Uniknya, pak Iman sengaja membuat tempat privasi hanya khusus untuk kamar tidur dan kamar mandi, selebihnya merupakan akses umum. Paling belakang, adalah guest house dan halaman bermain, yang nantinya akan dijadikan juga sebagai panggung, bisa untuk pertunjukkan kesenian maupun film dan diskusi.

Pensiun dari aktivitas mengajar (sbg guru), pak Iman menjadi dosen serta mengasuh sebuah talkshow di RRI jember. Rumah sekarang yang dia tempati menjadi langganan berbagai komunitas, instansi untuk beraktivitas dan kunjungan dinas sampai media untuk meliput.  Dengan banyaknya kunjungan dari pihak luar, diharapkan semangat literasi dapat menular dan berkembang. Paling penting adalah memberikan anak-anak pengetahuan lebih mengenai bagaimana proses belajar berlangsung, yang tidak hanya diperoleh di kelas, tetapi juga bisa diperoleh dari lingkungan sekitar bahkan lebih asyik jika bisa berinteraksi dengan alam.

Semoga beliau selalu diberikan kesehatan dan rejeki untuk dapat menularkan semangat positif nya di dunia pendidikan🙂

kampung batja (3)

kamar pak Iman
kamar pak Iman

kampung batja (8) kampung batja (9)