Perjalanan saya dan istri memasuki hari ke dua, setelah sarapan dan pamitan dengan pak Iman Kampung Batja. Kami bergegas memacu scoopy kami dari jember kota menuju arah alas gumitir. Selang 10 menit, kebetulan setelah kami isi bensin istri saya meminta untuk membonceng saya he, dan setelah ngobrol sebentar saya pun setuju, tapi dengan syarat kalau sudah jalan berkelok naik turun gantian saya bonceng lagi.

Pemandangan didominasi hutan dan perkebunan, warna hijaunya mampu memanjakan mata kami. Memasuki alas gumitir, saya yang gantian membonceng karena memang jalan naik turun dan ada beberapa bagian yang cukup curam. Walaupun motor kami matic, tapi tidak ada masalah kok, malah kami senang karena tidak terlalu capek karena dudukan jok yang nyaman🙂, beberapa kali kami juga melihat truk bermuatan berat yang berjalan pelan untuk menaklukan tanjakan, tentunya hal ini membuat jalur sedikit merambat saat kita dibelakangnya. Oh ya, sebenarnya di kawasan ini ada tempat wisata yang bisa dikunjungi, yakni ‘rest area gumitir’ yang biasanya digunakan para pengguna jalan untuk beristirahat, sekedar makan dan bahkan rekreasi karena terdapat beberapa wahana permainan. Di dekatnya juga terdapat terowongan bawah tanah yang biasanya dilewati kereta api jurusan Surabaya-Banyuwangi.

Ketika masuk Banyuwangi, ditandai dengan patung gandrung atau penari perempuan kami pun beristirahat untuk ngemil dan minum. Disini juga ada beberapa orang yang beristirahat melepas lelah.

Selepas alas Gumitir
Patung Gandrung di tikungan alas Gumitir

Perjalanan kami lanjutkan menuju Kalibaru, karena saya berniat mampir di rumah cak Ilmi. Kebetulan saya kenal beliau pas mau naik Gunung Raung, selain sebagai tempat transit waktu itu saya berempat juga minta bantuan untuk mengantar ke pos pendakian paling awal untuk jalur Kalibaru. Penginnya sih kasih kejutan dengan tidak memberitahukan kedatangan di Kalibaru, eh ternyata sudah pindah rumah he. Setelah menelepon, kami dijemput untuk menuju ke rumah nya (aduh lupa nama dusun nya). Kehangatan penyambutan kental terasa, kami berdua disuguhi makan siang berupa sayur lodeh pedas andalan istri cak Ilmi dan tentunya secangkir kopi yang menemani ngobrol ngalur kidul. Tak terasa sudah jam 2 siang, kami pun berpamitan melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya, Pulau Merah.

Sebenarnya, kami ingin ke Songgon untuk main tubing di kali yang kayaknya seru karena kita mengarungi sungai dengan menggunakan ban dalam, tetapi karena sudah terlalu sore kami memutuskan untuk langsung ke Pulau Merah. Dari Kalibaru, kami menuju lokasi melewati Jajag. Perjalanan cukup jauh juga, dan membuat istri mengantuk. Tapi untuk istirahat, cukup mudah karena tinggal cari mushola/masjid, tidur deh wkwk

 

Perjalanan ke pulau merah
Perjalanan ke pulau merah

Perjalanan Kalibaru ke Pulau merah kami tempuh kurang lebih 3 jam, dengan kecepatan rata-rata 60km/jam dan itu pun terhitung santai karena kita berhenti 3 kali. Tujuan kami berada di desa Sumber Agung Kec. Pesanggrahan, kebetulan waktu kami di sana jalanan aspal bagus dan banyak petunjuknya untuk mengarahkan ke lokasi, kebetulan sedang ada acara lomba surfing internasional, sehingga kondisi jalan banyak lalu lalang mobil.

Setibanya di sana, kami langsung istirahat di tepi pantai sambil minum es degan, lokasi pantai sangat ramai karena penutupan lomba surfing juga dihadiri Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas yang memang lagi jadi bahan pembicaraan karena prestasi nya memajukan Banyuwangi baik dari segi ekonomi maupun pariwisata. Sebelum lomba surfing, juga ada Tour de Ijen yang di ikuti banyak pula peserta dari luar negeri.

 

pulau merah (2)

Penutupan lomba surfing Internasional 2014
Penutupan lomba surfing Internasional 2014

pulau merah (10) pulau merah (11)

Kami belum sempat jalan berkeliling, karena sudah petang datang dan capek sekali, setelah mandi kami segera mendirikan tenda mumpung keadaan sudah berangsur sepi. Tenda berdiri, kami pun makan malam dengan lahapnya.