Dari keseluruhan perjalanan, cerita ke alas purwo adalah yang paling menarik dan tak terduga. Selesai dari teluk ijo, kami berencana ke alas purwo memang, tapi karena sudah sore dan gak mungkin malam-malam ke Rowobendo kami putuskan menginap di kantor balai Taman Nasional yang berada di Kutorejo. Selama perjalanan karena kami buta jalan, ya terus nanya ke penduduk he. Perjalanan kami tempuh lumayan lama, kurang lebih 4 jam, sambil istirahat sholat ashar dan Maghrib. Memang seharusnya waktu tempuhnya lebih cepat, tapi berhubung kami santai, jadilah perjalanan menjadi lebih lama. Masuk benculuk sudah petang, sehingga arah ke Kutorejo malam hari. Kendala disini hanya nyamuk yang banyak sepanjang jalan, jadi tetap gunakan masker dan tutup kaca helm untuk menghindari gangguan nyamuk.

Sampai di desa terakhir, saya benar-benar lupa lokasi kantor balai TN, sehingga saya tanya ke penduduk arahnya tapi ternyata salah paham terjadi, kenapa?? Sewaktu kami memacu motor di tengah hutan, saya baru sadar kok sudah masuk hutan yaa, gak ada lampu dan keramaian warga lagi. Akhirnya kami kembali ke pos Perhutani yang sempat kami lihat, info dari mereka pos TN masih jauh dan disarankan menginap untuk lanjut besok pagi saja, ya saya jelas menolak dengan halus karena merasa sudah dekat. Perjalanan lanjut menyusuri hutan gelap, tapi jalan sudah beraspal bagus. Kira-kira 15menit, saya sadar kalau jalanan yang kami lalui adalah ke arah Rowobendo, ahh padahal rencana kami melalui jalan ini besok pagi karena kalau malam bahaya binatang yang kadang lewat di tengah jalan, dan bayangkan jika di tengah hutan, rasanya sedikit deg-deg an karena cuman berdua. Tapi karena jalanan beraspal tersebut saya menjadi agak sedikit tenang, tapi saya juga tidak menyangka, karena dulu (2006- 2008) saya kesana jalanan masih tanah bercampur bebatuan,

Jam menunjukkan 8 malam, saat kami melaju pelan ke Rowobendo. Mengenai jalan aspal tadi ternyata belum 100% nyambung, ada sekitar 3 km jalanan masih rusak, jadi musti lebih berhati-hati. Saat melihat cahaya terang, kami pun lega karena sudah membayangkan makanan, matras, tenda untuk segera istirahat. Sesampainya di pos, kami isi buku tamu dan ngobrol2. Tanpa panjang lebar, saya pun cerita kalau anggota Wanala Unair, mereka pun merespon dengan baik karena dulunya sering mengadakan kegiatan konservasi di Alas Purwo, terutama senior saya angkatan 2000an yang rajin sambang di Ngagelan untuk studi penyu. Bahkan 2 penjaga di pos pun kenal banyak sama anggota Wanala, Sudah bisa ditebak, kami berdua pun tidak jadi mendirikan tenda karena ditawarin tidur di pos🙂

Pos Rowobendo
Pos Rowobendo
Petugas pos Rowobendo
Petugas pos Rowobendo
Gerbang Alas Purwo
Gerbang Alas Purwo

Jam 5 pagi, keesokan harinya kami bangun dan segera sholat subuh. Kenapa harus bangun pagi? Karena jika ingin ke Sadengan lihat binatang dari dekat harus bangun pagi-pagi, kalau udah siang mereka pasti masuk hutan kembali. Dari Rowobendo ke Sadengan hanya 2km (15 menit), beda dengan dulu saya kesana, sekarang di pos Sadengan kantor dan mess nya lebih terawat, ilalang yang tumbuh liar pun sudah dipotong rapi.

Ternyata jam 6 pagi adalah waktu yang terhitung siang untuk meliihat satwa dari dekat he, akhirnya petugas jaga meminjamkan kami binokular untuk lihat dari atas pos pengamatan. Dari menara pos, kami dapat melihat sekumpulan banteng yang sedang ‘santai’ di padang rumput, jika beruntung di Sadengan bisa melihat merak dan rusa.

Pengamatan dengan menggunakan binokular
Pengamatan dengan menggunakan binokular
Sadengan
Sadengan

Photo1958

Jalan masuk ke Sadengan
Jalan masuk ke Sadengan
Sadengan
Sadengan

Dari Sadengan, kami berdua menuju Pancur. Yang terkenal dengan pantai dan beberapa goa. Berjarak 3 km, Pancur lebih ramai menjadi tujuan wisatawan karena menjadi akses ke pantai plengkung yang terkenal untuk surfing serta bagi para pertapa yang ingin bertapa ke goa, disini memang ada beberapa goa yang dikeramatkan.

Wajah Pancur pun kini semakin elok, karena parking area semakin luas dan di paving, kantor penjagaan pun semakin bagus dan besar, terdapat pula camping ground yang luas. Di sini terdapat pantai yang masih bagus dan memiliki ombak yang cukup besar, jadi kalau berenang harus tetap hati-hati.

Untuk ke plengkung/G-Land, bisa carter mobil yang disediakan pengelola dengan kapasitas 10 orang. Selain menikmati rindangnya pepohonan, di sini anda bisa melihat monyet liar yang berlalu-lalang. Berada di kawasan taman nasional, alas purwo memiliki hutan tropis yang masih lebat dan perawan. Sehingga cocok bagi para penggiat konservasi maupun peneliti yang ingin mempelajari vegetasi maupun kehutanan secara umum.

Pos Pancur
Pos Pancur
Monyet liar di Pancur
Monyet liar di Pancur

 

Suasana di Pancur (dkt camping ground)
Suasana di Pancur (dkt camping ground)
Pantai Pancur
Pantai Pancur

pancur (14)

pancur (24)

pancur (25)

Pura yang berada di kiri jalan sebelum Pancur
Pura yang berada di kiri jalan sebelum Pancur
Grandong namanya wkwk
Kendaraan ini Grandong namanya wkwk
Sisi lain perjalanan ke Rowobendo
Sisi lain perjalanan ke Rowobendo

Setelah puas, kami segera kembali ke Rowobendo dan berpamitan ke petugas jaga. Destinasi selanjutnya adalah kota Banyuwangi dan Watudodol.