Setelah dari Alas Purwo, perjalanan kami lanjutkan ke Watu Dodol. Disana kami berdua sudah janjian dengan rekan lain untuk menyebrang ke pulau Menjangan dan pulau Tabuhan. Memasuki Ketapang sudah gelap, terlihat antrian kendaraan yang didominasi truk barang mengular kurang lebih 1Km untuk masuk pelabuhan dan menuju Bali.

Kebetulan kami janjian di warung dekat patung gandrung. Sesampainya di warung, saya langsung pesan es degan untuk melupakan haus sambil menunggu rekan saya Manu dan Catur yang mencari kapal untuk besok pagi. Rejeki kami kayaknya berada di warung ini, ternyata anak nya juga nelayan di kawasan tersebut, jadinya kami tinggal nego harga saja, dan deal di angka Rp 550.000,- untuk menyebrang ke menjangan + tabuhan dari watu dodol. Kami bermalam di rumah pemilik kapal (mas Mul) yang berdekatan dengan pantai.

Aksi kami di malam hari
Aksi kami di malam hari
Suasana belakang warung di Watudodol
Suasana belakang warung di Watudodol

Setelah bangun pagi, kami berangkat jam 08.00 dari rumah mas Mul dengan berjalan kaki. Bekal utama kami adalah air putih di dalam jerigen dan nasi bungkus, yang di bontotin istri mas Mul (terima kasih banyak). Rombongan ini terdiri dari saya dan istri, Catur, Danang, Amanu, Dini yang tidak lain adalah teman-teman semasa masih kuliah. Untuk guide sendiri adalah mas Mul, dan 2 temannya yang bertugas sebagai ‘sopir’ dan ‘jangkar boy’ he

Menuju pantai
Menuju pantai
Mercusuar Watudodol
Mercusuar Watudodol

menjangan (6)

Yang ditunggu telah tiba :)
Yang ditunggu telah tiba🙂

menjangan (9)

 

Penyebrangan ini tidaklah seramai dari jalur Labuan Lalang, karena jarang yang menggunakan jasa kapal dari Watu Dodol untuk menuju pulau Menjangan. Ya karena jaraknya lebih jauh.

Perjalanan ke Menjangan sendiri menempuh waktu 1 jam, sesampainya di lokasi kami segera turun untuk mencari petugas tapi ternyata sepi tidak ada yang jaga. Akhirnya kami memutuskan untuk segera mencari tempat yang cocok untuk snorkeling. Air laut yang bening, membuat kami semua tidak sabar untuk segera melihat batu karang dan ikan-ikan yang terlihat warna-warni.

Tidak lama kemudian, ada 2 kapal lain yang meghampiri, yang ternyata petugas jaga yang sedang menemani tamu berkeliling. Dan kita pun ditegur karena tidak punya tiket masuk dan kapal yang kami tumpangi di anggap tidak terdaftar. Kami pun meminta maaf kepada petugas, atas kebijakan mereka kami pun masih boleh disini, dengan syarat tidak menurunkan jangkar dan dilarang memancing, karena kru kapal memang membawa peralatan untuk memancing. Kami akhirnya mengerti kenapa tidak boleh menurunkan jangkar, karena pengelola ingin menjaga terumbu karang agar tidak rusak oleh jangkar kapal maupun ikan-ikan dipancing secara sembarangan oleh nelayan.

Hanya 20 menit kami di sekitar menjangan, selanjutnya kami ke Pulau Tabuhan yang berjarak 1 jam juga dari pulau menjangan. Ditemani siang yang terik, di atas perahu kami makan siang bontotan sederhana yang berisi nasi, mie, telur yang walaupun sederhana tapi tetap nikmat karena mengobati lapar kami.

1 jam berlalu, ditemani ombak yang tenang dan keberuntungan karena ombak tidak sebesar biasanya kami sampai di pulau Tabuhan, yang ukurannya terbilang kecil, tetapi memiliki pemandangan yang masih alami dan pantai yang indah karena air yang jernih dan pasir yang putih. Pulau ini masuk kabupaten banyuwangi dan menjadi tempat yang belum dikelola dengan baik, karena minimnya fasilitas dan informasi mengenai tempat ini. Kami menjadi beruntung karena menjadi salah satu penikmat pulau, karena belum banyak wisatawan yang kesini.

Pantai ini menawarkan spot snorkeling yang banyak dan perawannya hutan kecil ditengah-tengahnya, terdapat pula mercusuar disini. Kami mencoba untuk mengelilingi pulau, dan 30 menit adalah waktu yang dibutuhkan untuk jalan kaki berkeliling penuh. Sayang ada sampah yang berserakan di pantai, mungkin dari kapal penumpang, atau Banyuwangi bahkan dari Bali yang terbawa arus laut. Selanjutnya kami menikmati pulau ini dengan snorkeling sepuasnya sampai sore jam 3. Tidak pernah bosen dan capek, karena masih bagus terumbu karangnya serta ikan-ikan yang ada. Dari sini kita juga bisa melihat Baluran, Ketapang, Bali Barat bahkan kapal-kapal besar di kejauhan yang sedang sandar untuk muat/bongkar barang. Puas main air dan menikmati pantai, kami kembali ke Watu Dodol. Berjarak hanya 30 menit kalau dari sini.

TN Bali Barat
TN Bali Barat

menjangan (17)

menjangan (18)

Kantor Pengelola Pulau Menjangan
Kantor Pengelola Pulau Menjangan
Dermaga Pulau Menjangan
Dermaga Pulau Menjangan


tabuhan (12)

tabuhan (19)

tabuhan (39)

tabuhan (42)

 

beningnya air bikin pengen segera berenang
beningnya air bikin pengen segera berenang
Kapal bersandar, pasukan bersiap hehe
Kapal bersandar, pasukan bersiap hehe
Hasil memancing, langsung dibakar
Hasil memancing, langsung dibakar

Yup, edisi ke Tabuhan adalah yang penghujung bikepacking saya dan istri serta rekan yang lain, dimana sebelumnya mereka camping di slenggrong/teluk banyu biru yang berlokasi di alas purwo.

Saya pamitan dulu karena biar gak kemalaman di jalanan alas Baluran yang pastinya bahaya kalau berkendara motor malam disana. Rekan saya yang lain rencananya balik pakai bis/travel ke Surabaya. Selama perjalanan pulang ke Surabaya, saya berhenti lama di SPBU Kraksaan Probolinggo untuk tidur malam. Sungguh melelahkan perjalanan malam hari kami, sangat sepi terutama saat masuk pasir putih-paiton, kami cemas juga jika ada perampok kendaraan bermotor, teman kami perjalanan hanya bis dan mobil pribadi. Masuk Pasuruan, kami juga istirahat cukup lama hingga fajar datang, kami sempatkan mampir nasi punel Bangil untuk isi perut sebelum lanjut ke Surabaya.