Mungkin bagi saya ini adalah salah satu PR dalam blog ini yang paling sulit, karena saya akan memulai menulis kisah perjalanan yang sudah terlewatkan selama kurang lebih 4 tahun lebih #sambil garuk2 kepala

Ya alhamdulillah, walaupun telat banget tapi akhirnya muncul juga waktu dan kesempatan untuk kembali menuliskan cerita mengenai kegiatan ekspedisi jaman kuliah, kebetulan saya di bulan November 2009 ada kegiatan pendakian di gunung Kilimanjaro-Tanzania. Kegiatan ini merupakan rangkaian pencapaian 7 summit organisasi kampus yang saya ikuti, WANALA UNAIR.

Sepertinya cerita mengenai bagaimana mewujudkan ekspedisi ini saya skip, dan mungkin perlu di bagian dan lain kesempatan. Sekarang saya akan berbagi mengenai perjalanan selama di Afrika, semoga bermanfaat buat yang merencanakan ekspedisi ke Kilimanjaro🙂

 

 

Menuju bandara Soeta dari rumah mas Wik
Menuju bandara Soeta dari rumah mas Wik
Menjelang check in di bandara
Menjelang check in di bandara
Kami bersama tim Jakarta
Kami bersama tim Jakarta

Perjalanan ke Tanzania, kami menggunakan pesawat Emirates dengan rute Jakarta-Dubai-Kenya. Waktu tempuh nya kurang lebih 15 jam, itu termasuk transit di Dubai Int. Airport. Dari Jakarta kami berangkat bersama tim, diantar mas Wik dan mas Rudi, yang selama ini juga membantu menyediakan akomodasi selama karantina di Jakarta.

Di bandara Soekarno Hatta waktu itu, selain airport tax juga harus biaya fiskal yang harus kami bayar sebelum perjalanan ke luar negeri, tapi sekarang sudah dihapuskan. Kalau tidak salah per orang harus bayar 1,5juta. Setelah take off kami menempuh kurang lebih 7 jam ke Dubai untuk transit, tentunya di pesawat ya cukup bosan. Untuk membunuh waktu, kami membaca dan mendengarkan musik, selebihnya ya tidur. Setibanya di Dubai, kami turun pesawat dan harus menunggu kurang lebih 2 jam di dalam bandara. Dan yang bikin kami betah adalah kenyamanan bandara modern ini, yang punya desain bagus dan glassy, dari segi ukuran pun sangat luas (karena sebagai tujuan transit penerbangan internasional). Di bagian toilet pun ada keran air siap minum, sementara papan informasi pun sangat lengkap sehingga kami tidak kesulitan untuk mencarai gate untuk transfer pesawat.

Menuju bandara Nairobi-Kenya, Jomo Kenyatta butuh 6 jam perjalanan. Rasa penasaran dengan lokasi tujuan, selama di dalam pesawat pun terbayarkan ketika kami landing. Kami bertiga (saya, Awang, Ismail) dijemput oleh pak Agam yang merupakan staf KBRI Nairobi. Kemudahan untuk pengurusan visa pun membuat kami lega, walaupun disana menggunakan sistem VOA (Visa On Arrival), tapi kami tidak menyangka secepat itu jika dibantu staf kedutaan.

Dari bandara kami segera meluncur ke rumah dinas kedutaan yang berjarak 30 menit. Selama di mobil kami sangat antusias melihat situasi di kota Nairobi yang merupakan kota terbesar sekaligus ibukota Kenya, sambil berbincang dengan pak Agam. Kami melihat betapa banyaknya burung-burung yang berukuran cukup besar terbang rendah dan hinggap di pepohonan, padahal kalau di Indonesia pasti sudah jadi santapan di piring hehe, ternyata masyarakat di sana sangat menjaga fauna yang hidup termasuk burung, mereka tidak membunuhnya. Kejadian lain yang cukup unik adalah banyaknya lampu lalin yang di beri pelindung dari kawat, yang ternyata bertujuan untuk menjaga amuk mahasiswa yang sering demo dan merusak fasilitas umum. Satu lagi yang bikin geleng-geleng kepala adalah tidak adanya sepeda motor di Nairobi ini, hal ini dikarenakan orang-orang yang kaya tidak mau pakai sepeda motor dan memilih mobil sebagai alat transportasi, sedangkan yang miskin tidak terpikirkan untuk beli kendaraan, karena mereka fokus untuk cari makan sehari-hari. Atas ketimpangan inilah, tindak kriminal disana cukup tinggi, sehingga kami pun tidak bisa jalan-jalan di malam hari atas alasan keamanan.

Transit di Dubai Int. Airport
Transit di Dubai Int. Airport
Burung-burung yang hidup bebas
Burung-burung yang hidup bebas

DSC_7907

DSC_7911

DSC_7925

Tidak ada sepeda motor
Tidak ada sepeda motor
 SPBU di Nairobi
SPBU di Nairobi

Lokasi kantor KBRI di Nairobi berada di Menengai Road, Upper Hill. Kami kesana bertujuan untuk ramah tamah dengan pak Budi Bowoleksono yang saat itu masih bertugas disana, tapi sekarang beliau sudah bertugas di AS. Penerimaan yang ramah membuat kami sangat betah, sehingga sewaktu ngobrol kami dapat informasi banyak mengenai keadaan kota dan juga dapat cerita suka duka bertugas di tempat yang jauh dari kampung halaman. Selain itu kami juga menyerahkan souvenir dari kampus sebagai kenang-kenangan.

Setelah selesai, kami beristirahat di rumah dinas kedubes yang lokasinya hanya 10 menit perjalanan dari kantor. Menempati lahan yang luas rumah dinas ini tampak asri dan bersih, dimana di dalamnya terdapat pula guest house, lapangan tenis, serta kolam renang. Di sini juga ada orang Indonesia yang bekerja sebagai kepala dapur, taman serta menjaga anak-anak. Jadi kami walaupun jauh dari rumah, masih bisa menemui lauk asli Indonesia seperti tempe dan tahu berkat sajian makanan yang ada. Malamnya kami tidur sangat nyenyak karena kecapekan dan masih jetlag.

Rumah dinas Dubes RI di Nairobi
Rumah dinas Dubes RI di Nairobi

DSC_8076

Ramah tamah dengan staf Kedubes
Ramah tamah dengan staf Kedubes
Halaman depan kantor KBRI Nairobi
Halaman depan kantor KBRI Nairobi

DSC_7976

Berbincang dengan pak Dubes dan istri
Berbincang dengan pak Dubes dan istri

IMG_9109