Search

dicky berbagi cerita

sejenak bersandar di guratan senja

Category

jalan-jalan

Tengah kota Surabaya, kini ..

Alternatif baru untuk menikmati akhir pekan di Surabaya kini sudah bertambah, selain kita bisa menikmati mall atau café/restoran. Kita bisa berjalan kaki di tengah kota untuk menikmati hasil kerja keras pemkot Surabaya untuk mempercantik jalan Tunjungan serta di sekitaran Monkasel.

Wilayah tersebut kini semakin bersih dan saat malam hari terdapat lampu-lampu cantik yang menghiasi. Semakin bangga tentunya tinggal di kota ini kan?

 

Jpeg
Gedung Siola kini ada museum dan dijadikan kantor Dispendukcapil Surabaya

Jpeg

Jpeg
Skate Park – BMX (sebelah Monkasel)
Jpeg
Seberang Grand City

Bingung weekend kemana? Bangkalan aja ..

Yang namanya weekend, di otak pastinya sudah berpikir mau kemana ya??

Saya dan istri pun mengalaminya :), setelah ngobrol ngalor ngidul, akhirnya kita sepakat ke Bangkalan. Ya, salah satu kota di pulau Madura tersebut menjadi pilihan karena jarak yang dekat dari Surabaya sehingga tidak perlu bermalam.

Dua lokasi yang kami pilih adalah bukit Jaddih dan mercusuar Sembilangan, keduanya ada di Bangkalan. Kami ke sana menggunakan sepeda motor via jembatan Suramadu. Bukit Jaddih kami tempuh dari Surabaya pusat sekitar 45 menit, ketika sampai di lokasi pintu Suramadu sisi Madura sekitar 500 meter kiri jalan ada jalan kecil di belakang warung souvenir kita bisa lewati (khusus sepeda motor) untuk menuju akses desa Labang, kalau menggunakan mobil pasti tidak bisa (kita harus lewat kota Bangkalan).

Jpeg
Akses masuk ke kawasan bukit Jaddih

Lokasi bukit ini merupakan tambang batu kapur yang masih beroperasi, yang sebagian juga dibuka untuk wisata alam serta ada juga kolam renang. Untuk mencapai puncaknya kita bisa membawa kendaraan kita, setelah parkir kita hanya perlu jalan kaki 5 menit dan bisa segera berfoto-foto dengan view yang cukup bagus.

Jpeg
Tambang bukit Jaddih

 

Jpeg
Puncak bukit

IMG_20151213_082601

IMG_20151213_085730(1)

Jpeg
Kolam renang di kawasan bukit Jaddih

Selanjutnya, saya dan istri meluncur ke mercusuar Sembilangan. Berjarak sekitar 20km, kami tempuh sekitar 30 menit, jalanan aspal sangat bagus dan sepi, sehingga kami berdua sangat menikmatinya.

Mercusuar ini sekarang di tutup akses untuk naik sampai puncak, saya sudah tanya petugas yang jaga, info nya sih masih ada pembahasan di tingkat pusat mengenai aturan di lokasi dan siapa yang berhak mengelola (antara kemenhub atau TNI AL?). Dari sini kita bias melihat lalu lalang kapal cargo yang masuk ke Perak.

Setelah itu, kami kembali ke Surabaya lewat Kamal karena lokasi yang lebih dekat dibandingkan ke Suramadu.

Jpeg
Jalan menuju ke mercusuar Sembilangan (Jl. Raya Kramat)

 

Jpeg

Jpeg
Mercusuar (tampak belakang)

 

 

Museum Angkut

#latepost

Museum angkut kini menjadi pilihan yang menarik untuk berwisata ke Batu, karena menawarkan koleksi unik kendaraan bermotor  baik mulai pabrikan Amerika, Eropa hingga Asia yang lengkap. Usia koleksi nya pun tergolong tua, karena ada yang di produksi di bawah tahun 1960.

Entah siapa yang punya koleksi tersebut, yang pasti dua jempol saja tidak cukup. Kenapa? Suatu bisnis yang dilatar belakangi hobi pasti menyenangkan, apalagi bisnis tersebut menghasilkan profit yang mengggiurkan. Pemilik museum angkut pun demikian, dengan kolekasi yang lengkap, lahan yang luas serta perencanaan yang matang, dia mampu mewujudkan sebuah oase di tengah kota Batu yang identik dengan Jatim Park dan Songgoriti, dia mampu berinovasi dengan menyajikan tempat ‘cuci mata’ yang unik sekaligus mengandung unsur edukasi bagi pengunjung.

Tempat ini tergolong cocok untuk semua usia, jadi anda tidak perlu takut jika bawa anak-anak untuk berjalan-jalan di dalamnya.

Selain koleksi motor dan mobil yang ada, pengelola juga menambahkan unsur budaya bangsa Indonesia melalui museum topeng, pusat jajanan serta beberapa sudut ruang yang di isi dengan kendaraan jadul negeri kita seperti oplet, becak atau delman.

Saya merekomendasikan tempat ini sebagai alternatif tujuan saat anda berwisata ke Batu 🙂

DSC_0230 batu (29) batu (6) museum angkut (14) museum angkut (25) songgoriti mus. angkut (87) songgoriti mus. angkut (220) songgoriti mus. angkut (87) songgoriti mus. angkut (69) songgoriti mus. angkut (256) songgoriti mus. angkut (31)DSC_0214

Ekspedisi Kilimanjaro Airlangga Indonesia (1)

Mungkin bagi saya ini adalah salah satu PR dalam blog ini yang paling sulit, karena saya akan memulai menulis kisah perjalanan yang sudah terlewatkan selama kurang lebih 4 tahun lebih #sambil garuk2 kepala

Ya alhamdulillah, walaupun telat banget tapi akhirnya muncul juga waktu dan kesempatan untuk kembali menuliskan cerita mengenai kegiatan ekspedisi jaman kuliah, kebetulan saya di bulan November 2009 ada kegiatan pendakian di gunung Kilimanjaro-Tanzania. Kegiatan ini merupakan rangkaian pencapaian 7 summit organisasi kampus yang saya ikuti, WANALA UNAIR.

Sepertinya cerita mengenai bagaimana mewujudkan ekspedisi ini saya skip, dan mungkin perlu di bagian dan lain kesempatan. Sekarang saya akan berbagi mengenai perjalanan selama di Afrika, semoga bermanfaat buat yang merencanakan ekspedisi ke Kilimanjaro 🙂

 

 

Menuju bandara Soeta dari rumah mas Wik
Menuju bandara Soeta dari rumah mas Wik
Menjelang check in di bandara
Menjelang check in di bandara
Kami bersama tim Jakarta
Kami bersama tim Jakarta

Perjalanan ke Tanzania, kami menggunakan pesawat Emirates dengan rute Jakarta-Dubai-Kenya. Waktu tempuh nya kurang lebih 15 jam, itu termasuk transit di Dubai Int. Airport. Dari Jakarta kami berangkat bersama tim, diantar mas Wik dan mas Rudi, yang selama ini juga membantu menyediakan akomodasi selama karantina di Jakarta.

Di bandara Soekarno Hatta waktu itu, selain airport tax juga harus biaya fiskal yang harus kami bayar sebelum perjalanan ke luar negeri, tapi sekarang sudah dihapuskan. Kalau tidak salah per orang harus bayar 1,5juta. Setelah take off kami menempuh kurang lebih 7 jam ke Dubai untuk transit, tentunya di pesawat ya cukup bosan. Untuk membunuh waktu, kami membaca dan mendengarkan musik, selebihnya ya tidur. Setibanya di Dubai, kami turun pesawat dan harus menunggu kurang lebih 2 jam di dalam bandara. Dan yang bikin kami betah adalah kenyamanan bandara modern ini, yang punya desain bagus dan glassy, dari segi ukuran pun sangat luas (karena sebagai tujuan transit penerbangan internasional). Di bagian toilet pun ada keran air siap minum, sementara papan informasi pun sangat lengkap sehingga kami tidak kesulitan untuk mencarai gate untuk transfer pesawat.

Menuju bandara Nairobi-Kenya, Jomo Kenyatta butuh 6 jam perjalanan. Rasa penasaran dengan lokasi tujuan, selama di dalam pesawat pun terbayarkan ketika kami landing. Kami bertiga (saya, Awang, Ismail) dijemput oleh pak Agam yang merupakan staf KBRI Nairobi. Kemudahan untuk pengurusan visa pun membuat kami lega, walaupun disana menggunakan sistem VOA (Visa On Arrival), tapi kami tidak menyangka secepat itu jika dibantu staf kedutaan.

Dari bandara kami segera meluncur ke rumah dinas kedutaan yang berjarak 30 menit. Selama di mobil kami sangat antusias melihat situasi di kota Nairobi yang merupakan kota terbesar sekaligus ibukota Kenya, sambil berbincang dengan pak Agam. Kami melihat betapa banyaknya burung-burung yang berukuran cukup besar terbang rendah dan hinggap di pepohonan, padahal kalau di Indonesia pasti sudah jadi santapan di piring hehe, ternyata masyarakat di sana sangat menjaga fauna yang hidup termasuk burung, mereka tidak membunuhnya. Kejadian lain yang cukup unik adalah banyaknya lampu lalin yang di beri pelindung dari kawat, yang ternyata bertujuan untuk menjaga amuk mahasiswa yang sering demo dan merusak fasilitas umum. Satu lagi yang bikin geleng-geleng kepala adalah tidak adanya sepeda motor di Nairobi ini, hal ini dikarenakan orang-orang yang kaya tidak mau pakai sepeda motor dan memilih mobil sebagai alat transportasi, sedangkan yang miskin tidak terpikirkan untuk beli kendaraan, karena mereka fokus untuk cari makan sehari-hari. Atas ketimpangan inilah, tindak kriminal disana cukup tinggi, sehingga kami pun tidak bisa jalan-jalan di malam hari atas alasan keamanan.

Transit di Dubai Int. Airport
Transit di Dubai Int. Airport
Burung-burung yang hidup bebas
Burung-burung yang hidup bebas

DSC_7907

DSC_7911

DSC_7925

Tidak ada sepeda motor
Tidak ada sepeda motor
 SPBU di Nairobi
SPBU di Nairobi

Lokasi kantor KBRI di Nairobi berada di Menengai Road, Upper Hill. Kami kesana bertujuan untuk ramah tamah dengan pak Budi Bowoleksono yang saat itu masih bertugas disana, tapi sekarang beliau sudah bertugas di AS. Penerimaan yang ramah membuat kami sangat betah, sehingga sewaktu ngobrol kami dapat informasi banyak mengenai keadaan kota dan juga dapat cerita suka duka bertugas di tempat yang jauh dari kampung halaman. Selain itu kami juga menyerahkan souvenir dari kampus sebagai kenang-kenangan.

Setelah selesai, kami beristirahat di rumah dinas kedubes yang lokasinya hanya 10 menit perjalanan dari kantor. Menempati lahan yang luas rumah dinas ini tampak asri dan bersih, dimana di dalamnya terdapat pula guest house, lapangan tenis, serta kolam renang. Di sini juga ada orang Indonesia yang bekerja sebagai kepala dapur, taman serta menjaga anak-anak. Jadi kami walaupun jauh dari rumah, masih bisa menemui lauk asli Indonesia seperti tempe dan tahu berkat sajian makanan yang ada. Malamnya kami tidur sangat nyenyak karena kecapekan dan masih jetlag.

Rumah dinas Dubes RI di Nairobi
Rumah dinas Dubes RI di Nairobi

DSC_8076

Ramah tamah dengan staf Kedubes
Ramah tamah dengan staf Kedubes
Halaman depan kantor KBRI Nairobi
Halaman depan kantor KBRI Nairobi

DSC_7976

Berbincang dengan pak Dubes dan istri
Berbincang dengan pak Dubes dan istri

IMG_9109

 

 

Bikepacking ke Banyuwangi (Hari ke 5)

Setelah dari Alas Purwo, perjalanan kami lanjutkan ke Watu Dodol. Disana kami berdua sudah janjian dengan rekan lain untuk menyebrang ke pulau Menjangan dan pulau Tabuhan. Memasuki Ketapang sudah gelap, terlihat antrian kendaraan yang didominasi truk barang mengular kurang lebih 1Km untuk masuk pelabuhan dan menuju Bali.

Kebetulan kami janjian di warung dekat patung gandrung. Sesampainya di warung, saya langsung pesan es degan untuk melupakan haus sambil menunggu rekan saya Manu dan Catur yang mencari kapal untuk besok pagi. Rejeki kami kayaknya berada di warung ini, ternyata anak nya juga nelayan di kawasan tersebut, jadinya kami tinggal nego harga saja, dan deal di angka Rp 550.000,- untuk menyebrang ke menjangan + tabuhan dari watu dodol. Kami bermalam di rumah pemilik kapal (mas Mul) yang berdekatan dengan pantai.

Aksi kami di malam hari
Aksi kami di malam hari
Suasana belakang warung di Watudodol
Suasana belakang warung di Watudodol

Setelah bangun pagi, kami berangkat jam 08.00 dari rumah mas Mul dengan berjalan kaki. Bekal utama kami adalah air putih di dalam jerigen dan nasi bungkus, yang di bontotin istri mas Mul (terima kasih banyak). Rombongan ini terdiri dari saya dan istri, Catur, Danang, Amanu, Dini yang tidak lain adalah teman-teman semasa masih kuliah. Untuk guide sendiri adalah mas Mul, dan 2 temannya yang bertugas sebagai ‘sopir’ dan ‘jangkar boy’ he

Menuju pantai
Menuju pantai
Mercusuar Watudodol
Mercusuar Watudodol

menjangan (6)

Yang ditunggu telah tiba :)
Yang ditunggu telah tiba 🙂

menjangan (9)

 

Penyebrangan ini tidaklah seramai dari jalur Labuan Lalang, karena jarang yang menggunakan jasa kapal dari Watu Dodol untuk menuju pulau Menjangan. Ya karena jaraknya lebih jauh.

Perjalanan ke Menjangan sendiri menempuh waktu 1 jam, sesampainya di lokasi kami segera turun untuk mencari petugas tapi ternyata sepi tidak ada yang jaga. Akhirnya kami memutuskan untuk segera mencari tempat yang cocok untuk snorkeling. Air laut yang bening, membuat kami semua tidak sabar untuk segera melihat batu karang dan ikan-ikan yang terlihat warna-warni.

Tidak lama kemudian, ada 2 kapal lain yang meghampiri, yang ternyata petugas jaga yang sedang menemani tamu berkeliling. Dan kita pun ditegur karena tidak punya tiket masuk dan kapal yang kami tumpangi di anggap tidak terdaftar. Kami pun meminta maaf kepada petugas, atas kebijakan mereka kami pun masih boleh disini, dengan syarat tidak menurunkan jangkar dan dilarang memancing, karena kru kapal memang membawa peralatan untuk memancing. Kami akhirnya mengerti kenapa tidak boleh menurunkan jangkar, karena pengelola ingin menjaga terumbu karang agar tidak rusak oleh jangkar kapal maupun ikan-ikan dipancing secara sembarangan oleh nelayan.

Hanya 20 menit kami di sekitar menjangan, selanjutnya kami ke Pulau Tabuhan yang berjarak 1 jam juga dari pulau menjangan. Ditemani siang yang terik, di atas perahu kami makan siang bontotan sederhana yang berisi nasi, mie, telur yang walaupun sederhana tapi tetap nikmat karena mengobati lapar kami.

1 jam berlalu, ditemani ombak yang tenang dan keberuntungan karena ombak tidak sebesar biasanya kami sampai di pulau Tabuhan, yang ukurannya terbilang kecil, tetapi memiliki pemandangan yang masih alami dan pantai yang indah karena air yang jernih dan pasir yang putih. Pulau ini masuk kabupaten banyuwangi dan menjadi tempat yang belum dikelola dengan baik, karena minimnya fasilitas dan informasi mengenai tempat ini. Kami menjadi beruntung karena menjadi salah satu penikmat pulau, karena belum banyak wisatawan yang kesini.

Pantai ini menawarkan spot snorkeling yang banyak dan perawannya hutan kecil ditengah-tengahnya, terdapat pula mercusuar disini. Kami mencoba untuk mengelilingi pulau, dan 30 menit adalah waktu yang dibutuhkan untuk jalan kaki berkeliling penuh. Sayang ada sampah yang berserakan di pantai, mungkin dari kapal penumpang, atau Banyuwangi bahkan dari Bali yang terbawa arus laut. Selanjutnya kami menikmati pulau ini dengan snorkeling sepuasnya sampai sore jam 3. Tidak pernah bosen dan capek, karena masih bagus terumbu karangnya serta ikan-ikan yang ada. Dari sini kita juga bisa melihat Baluran, Ketapang, Bali Barat bahkan kapal-kapal besar di kejauhan yang sedang sandar untuk muat/bongkar barang. Puas main air dan menikmati pantai, kami kembali ke Watu Dodol. Berjarak hanya 30 menit kalau dari sini.

TN Bali Barat
TN Bali Barat

menjangan (17)

menjangan (18)

Kantor Pengelola Pulau Menjangan
Kantor Pengelola Pulau Menjangan
Dermaga Pulau Menjangan
Dermaga Pulau Menjangan


tabuhan (12)

tabuhan (19)

tabuhan (39)

tabuhan (42)

 

beningnya air bikin pengen segera berenang
beningnya air bikin pengen segera berenang
Kapal bersandar, pasukan bersiap hehe
Kapal bersandar, pasukan bersiap hehe
Hasil memancing, langsung dibakar
Hasil memancing, langsung dibakar

Yup, edisi ke Tabuhan adalah yang penghujung bikepacking saya dan istri serta rekan yang lain, dimana sebelumnya mereka camping di slenggrong/teluk banyu biru yang berlokasi di alas purwo.

Saya pamitan dulu karena biar gak kemalaman di jalanan alas Baluran yang pastinya bahaya kalau berkendara motor malam disana. Rekan saya yang lain rencananya balik pakai bis/travel ke Surabaya. Selama perjalanan pulang ke Surabaya, saya berhenti lama di SPBU Kraksaan Probolinggo untuk tidur malam. Sungguh melelahkan perjalanan malam hari kami, sangat sepi terutama saat masuk pasir putih-paiton, kami cemas juga jika ada perampok kendaraan bermotor, teman kami perjalanan hanya bis dan mobil pribadi. Masuk Pasuruan, kami juga istirahat cukup lama hingga fajar datang, kami sempatkan mampir nasi punel Bangil untuk isi perut sebelum lanjut ke Surabaya.

Bikepacking ke Banyuwangi (Hari ke 4)

Dari keseluruhan perjalanan, cerita ke alas purwo adalah yang paling menarik dan tak terduga. Selesai dari teluk ijo, kami berencana ke alas purwo memang, tapi karena sudah sore dan gak mungkin malam-malam ke Rowobendo kami putuskan menginap di kantor balai Taman Nasional yang berada di Kutorejo. Selama perjalanan karena kami buta jalan, ya terus nanya ke penduduk he. Perjalanan kami tempuh lumayan lama, kurang lebih 4 jam, sambil istirahat sholat ashar dan Maghrib. Memang seharusnya waktu tempuhnya lebih cepat, tapi berhubung kami santai, jadilah perjalanan menjadi lebih lama. Masuk benculuk sudah petang, sehingga arah ke Kutorejo malam hari. Kendala disini hanya nyamuk yang banyak sepanjang jalan, jadi tetap gunakan masker dan tutup kaca helm untuk menghindari gangguan nyamuk.

Sampai di desa terakhir, saya benar-benar lupa lokasi kantor balai TN, sehingga saya tanya ke penduduk arahnya tapi ternyata salah paham terjadi, kenapa?? Sewaktu kami memacu motor di tengah hutan, saya baru sadar kok sudah masuk hutan yaa, gak ada lampu dan keramaian warga lagi. Akhirnya kami kembali ke pos Perhutani yang sempat kami lihat, info dari mereka pos TN masih jauh dan disarankan menginap untuk lanjut besok pagi saja, ya saya jelas menolak dengan halus karena merasa sudah dekat. Perjalanan lanjut menyusuri hutan gelap, tapi jalan sudah beraspal bagus. Kira-kira 15menit, saya sadar kalau jalanan yang kami lalui adalah ke arah Rowobendo, ahh padahal rencana kami melalui jalan ini besok pagi karena kalau malam bahaya binatang yang kadang lewat di tengah jalan, dan bayangkan jika di tengah hutan, rasanya sedikit deg-deg an karena cuman berdua. Tapi karena jalanan beraspal tersebut saya menjadi agak sedikit tenang, tapi saya juga tidak menyangka, karena dulu (2006- 2008) saya kesana jalanan masih tanah bercampur bebatuan,

Jam menunjukkan 8 malam, saat kami melaju pelan ke Rowobendo. Mengenai jalan aspal tadi ternyata belum 100% nyambung, ada sekitar 3 km jalanan masih rusak, jadi musti lebih berhati-hati. Saat melihat cahaya terang, kami pun lega karena sudah membayangkan makanan, matras, tenda untuk segera istirahat. Sesampainya di pos, kami isi buku tamu dan ngobrol2. Tanpa panjang lebar, saya pun cerita kalau anggota Wanala Unair, mereka pun merespon dengan baik karena dulunya sering mengadakan kegiatan konservasi di Alas Purwo, terutama senior saya angkatan 2000an yang rajin sambang di Ngagelan untuk studi penyu. Bahkan 2 penjaga di pos pun kenal banyak sama anggota Wanala, Sudah bisa ditebak, kami berdua pun tidak jadi mendirikan tenda karena ditawarin tidur di pos 🙂

Pos Rowobendo
Pos Rowobendo
Petugas pos Rowobendo
Petugas pos Rowobendo
Gerbang Alas Purwo
Gerbang Alas Purwo

Jam 5 pagi, keesokan harinya kami bangun dan segera sholat subuh. Kenapa harus bangun pagi? Karena jika ingin ke Sadengan lihat binatang dari dekat harus bangun pagi-pagi, kalau udah siang mereka pasti masuk hutan kembali. Dari Rowobendo ke Sadengan hanya 2km (15 menit), beda dengan dulu saya kesana, sekarang di pos Sadengan kantor dan mess nya lebih terawat, ilalang yang tumbuh liar pun sudah dipotong rapi.

Ternyata jam 6 pagi adalah waktu yang terhitung siang untuk meliihat satwa dari dekat he, akhirnya petugas jaga meminjamkan kami binokular untuk lihat dari atas pos pengamatan. Dari menara pos, kami dapat melihat sekumpulan banteng yang sedang ‘santai’ di padang rumput, jika beruntung di Sadengan bisa melihat merak dan rusa.

Pengamatan dengan menggunakan binokular
Pengamatan dengan menggunakan binokular
Sadengan
Sadengan

Photo1958

Jalan masuk ke Sadengan
Jalan masuk ke Sadengan
Sadengan
Sadengan

Dari Sadengan, kami berdua menuju Pancur. Yang terkenal dengan pantai dan beberapa goa. Berjarak 3 km, Pancur lebih ramai menjadi tujuan wisatawan karena menjadi akses ke pantai plengkung yang terkenal untuk surfing serta bagi para pertapa yang ingin bertapa ke goa, disini memang ada beberapa goa yang dikeramatkan.

Wajah Pancur pun kini semakin elok, karena parking area semakin luas dan di paving, kantor penjagaan pun semakin bagus dan besar, terdapat pula camping ground yang luas. Di sini terdapat pantai yang masih bagus dan memiliki ombak yang cukup besar, jadi kalau berenang harus tetap hati-hati.

Untuk ke plengkung/G-Land, bisa carter mobil yang disediakan pengelola dengan kapasitas 10 orang. Selain menikmati rindangnya pepohonan, di sini anda bisa melihat monyet liar yang berlalu-lalang. Berada di kawasan taman nasional, alas purwo memiliki hutan tropis yang masih lebat dan perawan. Sehingga cocok bagi para penggiat konservasi maupun peneliti yang ingin mempelajari vegetasi maupun kehutanan secara umum.

Pos Pancur
Pos Pancur
Monyet liar di Pancur
Monyet liar di Pancur

 

Suasana di Pancur (dkt camping ground)
Suasana di Pancur (dkt camping ground)
Pantai Pancur
Pantai Pancur

pancur (14)

pancur (24)

pancur (25)

Pura yang berada di kiri jalan sebelum Pancur
Pura yang berada di kiri jalan sebelum Pancur
Grandong namanya wkwk
Kendaraan ini Grandong namanya wkwk
Sisi lain perjalanan ke Rowobendo
Sisi lain perjalanan ke Rowobendo

Setelah puas, kami segera kembali ke Rowobendo dan berpamitan ke petugas jaga. Destinasi selanjutnya adalah kota Banyuwangi dan Watudodol.

Bikepacking ke Banyuwangi (Hari ke 3)

Yup akhirnya hari ketiga perjalanan kami. Masih di pulau merah tentunya saat pagi. Bangun kita sekitar jam 5.30, setelah beres-beres tenda kami jalan ke pantai, ya karena kemarin sore belum puas dan pagi ini serasa jadi milik kami ini pantai, karena sepi banget pengunjung. Hanya ada kami berdua dan 4 bule yang sedang mencari ombak bagus untuk surfing.

Setelah itu, kami coba berkeliling dengan motor ke sisi lain pantai, tepatnya di dekat tambang emas yang terkenal disana yakni tumpang pitu. Karena kawasannya tertutup bagi selain karyawan jadinya kami hanya melihat dari depan kompleks usahanya dimana dibagian depan banyak petugas yang berjaga dan parkiran motor karyawan, di kejauhan terlihat bukit-bukit yang masih menjulang yang mungkin itulah yang dinamakan tumpang pitu he (maklum gak sempetin nanya-nanya secara langsung).

pulau merah (54) day 3

pulau merah (55) day 3

Perkampungan di sekitar pantai pulau merah
Perkampungan di sekitar pantai pulau merah
Payung yang disewakan ke pengunjung
Payung yang disewakan ke pengunjung
Salah satu warung yg bernuansa Bali
Salah satu warung yg bernuansa Bali
Sarapan sebelum menjelajah lagi :)
Sarapan sebelum menjelajah lagi 🙂

Setelah puas menikmati sisi lain pantai, kami bersih diri. Kebetulan di sini banyak kamar mandi umum, dengan 2rb aja anda bisa mandi atau BAB sepuasnya haha.

Perjalanan akan dilanjut ke teluk ijo, yang berlokasi kurang lebih 1-1,5 jam perjalanan. Sebelumnya kami menyempatkan isi perut di warung sambil beli bensin untuk ditaruh di botol sebagai cadangan selama perjalanan. Keluar dari desa kami juga bertanya kepada penduduk arah tujuan kami selanjutnya. Karena kami tidak berbekal GPS, jadi tanya ke orang adalah jurus utama selama bikepacking 🙂

Aspal yang bagus, menjadi kesan tersendiri selama meninggalkan pulau merah, hingga akhirnya kami masuk ke kebun coklat PTPN XII Sungai Lembu yang jalanan tanpa aspal mendominasi, untungnya scoopy kami tidak rewel dan tetap handal, ya paling-paling tangan jadi capek karena harus jaga kestabilan laju motor.

Jalan bebatuan kawasan PTPN
Jalan bebatuan kawasan PTPN

teluk ijo (108) day 3

Deretan pohon di PTPN XII Sungai lembu
Deretan pohon di PTPN XII Sungai lembu
Pos penjagaan (dekat rajegwesi)
Pos penjagaan (dekat rajegwesi)

Untuk memasuki kawasan teluk ijo, kita harus lapor dan bayar biaya ijin masuk kawasan (meru betiri). Untuk dua orang, 1 motor, serta kamera dikenakan kurang lebih 25-30rb an, entah rincian nya saya lupa. Setelah dari pos, perjalanan semakin susah karena bebatuan makin besar dan jalur yang sedikit menanjak. Tidak lama setelah itu, 10 menitan kami sampai di pos yang dijaga warga lokal untuk memarkir motor, di tempat ini merupakan jalur ke 3 tempat, yakni goa jepang (1km), teluk ijo (2km) dan teluk damai. Bayar parkir 3rb selanjutnya jalan kaki, oh ya di teluk ijo tidak diijinkan menginap kecuali jika ada ijin khusus misal kegiatan konservasi maupun penelitian. Dari lokasi parkir ke pantai, kita menempuh dengan jalan kaki selama 30-45 menit (jalanan naik turun), dengan beberapa titik tanjakan dan turunan cukup curam, sehingga ada tali tambang yang dipasang dan dapat digunakan untuk pegangan.

Setapak ke teluk ijo
Setapak ke teluk ijo
Ini lah penampilan kuda jingkrak kami
Ini lah penampilan kuda jingkrak kami
Mengurus administrasi di pos jaga TN Meru Betiri
Mengurus administrasi di pos jaga TN Meru Betiri
Pantai Batu
Pantai Batu
Teluk Ijo
Teluk Ijo
Teluk Ijo
Teluk Ijo

Yang menarik dari teluk ijo adalah kawasannya masih bersih dan tidak terlalu ramai yang berkunjung. Mungkin karena akses yang susah dan memang sengaja tidak terlalu banyak publikasi. Berlokasi di kawasan konservasi, pantai ini memilki pasir yang lembut dan air yang sangat bening, nama ijo pun diambil dari kenyataan air laut di sana yang warna nya terlihat hijau. Untuk berenang tidak sembarangan sebaiknya, karena banyak karang di tepinya. Pantai ini memiliki hutan lebat di sekitarnya, sehingga keasrian dan keelokannya pun terjaga.

Teluk Damai
Teluk Damai

Balik dari teluk ijo, kami menyempatkan makan siang di sebuah warung dekat hutan pinus milik perhutani. Sajian tahu lontong dan es campur menambah semangat dan energi kami melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya, Alas Purwo 🙂

Makan dulu, biar kembali fit
Makan dulu, biar kembali fit
Pos PTPN Sungai Lembu
Pos PTPN Sungai Lembu
Tahu lontong
Tahu lontong
Es campur
Es campur

Bikepacking ke Banyuwangi (Hari ke 2)

Perjalanan saya dan istri memasuki hari ke dua, setelah sarapan dan pamitan dengan pak Iman Kampung Batja. Kami bergegas memacu scoopy kami dari jember kota menuju arah alas gumitir. Selang 10 menit, kebetulan setelah kami isi bensin istri saya meminta untuk membonceng saya he, dan setelah ngobrol sebentar saya pun setuju, tapi dengan syarat kalau sudah jalan berkelok naik turun gantian saya bonceng lagi.

Pemandangan didominasi hutan dan perkebunan, warna hijaunya mampu memanjakan mata kami. Memasuki alas gumitir, saya yang gantian membonceng karena memang jalan naik turun dan ada beberapa bagian yang cukup curam. Walaupun motor kami matic, tapi tidak ada masalah kok, malah kami senang karena tidak terlalu capek karena dudukan jok yang nyaman :), beberapa kali kami juga melihat truk bermuatan berat yang berjalan pelan untuk menaklukan tanjakan, tentunya hal ini membuat jalur sedikit merambat saat kita dibelakangnya. Oh ya, sebenarnya di kawasan ini ada tempat wisata yang bisa dikunjungi, yakni ‘rest area gumitir’ yang biasanya digunakan para pengguna jalan untuk beristirahat, sekedar makan dan bahkan rekreasi karena terdapat beberapa wahana permainan. Di dekatnya juga terdapat terowongan bawah tanah yang biasanya dilewati kereta api jurusan Surabaya-Banyuwangi.

Ketika masuk Banyuwangi, ditandai dengan patung gandrung atau penari perempuan kami pun beristirahat untuk ngemil dan minum. Disini juga ada beberapa orang yang beristirahat melepas lelah.

Selepas alas Gumitir
Patung Gandrung di tikungan alas Gumitir

Perjalanan kami lanjutkan menuju Kalibaru, karena saya berniat mampir di rumah cak Ilmi. Kebetulan saya kenal beliau pas mau naik Gunung Raung, selain sebagai tempat transit waktu itu saya berempat juga minta bantuan untuk mengantar ke pos pendakian paling awal untuk jalur Kalibaru. Penginnya sih kasih kejutan dengan tidak memberitahukan kedatangan di Kalibaru, eh ternyata sudah pindah rumah he. Setelah menelepon, kami dijemput untuk menuju ke rumah nya (aduh lupa nama dusun nya). Kehangatan penyambutan kental terasa, kami berdua disuguhi makan siang berupa sayur lodeh pedas andalan istri cak Ilmi dan tentunya secangkir kopi yang menemani ngobrol ngalur kidul. Tak terasa sudah jam 2 siang, kami pun berpamitan melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya, Pulau Merah.

Sebenarnya, kami ingin ke Songgon untuk main tubing di kali yang kayaknya seru karena kita mengarungi sungai dengan menggunakan ban dalam, tetapi karena sudah terlalu sore kami memutuskan untuk langsung ke Pulau Merah. Dari Kalibaru, kami menuju lokasi melewati Jajag. Perjalanan cukup jauh juga, dan membuat istri mengantuk. Tapi untuk istirahat, cukup mudah karena tinggal cari mushola/masjid, tidur deh wkwk

 

Perjalanan ke pulau merah
Perjalanan ke pulau merah

Perjalanan Kalibaru ke Pulau merah kami tempuh kurang lebih 3 jam, dengan kecepatan rata-rata 60km/jam dan itu pun terhitung santai karena kita berhenti 3 kali. Tujuan kami berada di desa Sumber Agung Kec. Pesanggrahan, kebetulan waktu kami di sana jalanan aspal bagus dan banyak petunjuknya untuk mengarahkan ke lokasi, kebetulan sedang ada acara lomba surfing internasional, sehingga kondisi jalan banyak lalu lalang mobil.

Setibanya di sana, kami langsung istirahat di tepi pantai sambil minum es degan, lokasi pantai sangat ramai karena penutupan lomba surfing juga dihadiri Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas yang memang lagi jadi bahan pembicaraan karena prestasi nya memajukan Banyuwangi baik dari segi ekonomi maupun pariwisata. Sebelum lomba surfing, juga ada Tour de Ijen yang di ikuti banyak pula peserta dari luar negeri.

 

pulau merah (2)

Penutupan lomba surfing Internasional 2014
Penutupan lomba surfing Internasional 2014

pulau merah (10) pulau merah (11)

Kami belum sempat jalan berkeliling, karena sudah petang datang dan capek sekali, setelah mandi kami segera mendirikan tenda mumpung keadaan sudah berangsur sepi. Tenda berdiri, kami pun makan malam dengan lahapnya.

 

 

Bikepacking ke Banyuwangi (Hari ke 1)

Jangan dikira, setelah menikah minat kami pada jalan-jalan berkurang, malah sebaliknya he. Kebetulan bulan Mei kemarin ada 2 tanggal merah dalam 1 minggu. Tidak kami sia-sia kan tentunya, dengan berbekal cuti 2 hari, kami berdua dapat menikmati libur 6 hari hoho.

Tidak banyak pikir, kami segera diskusi nentuin tujuan liburannya dan Banyuwangi lah yang akhirnya terpilih, karena selain mempunyai spot2 yang oke, rencana kami liburan naik motor alias bikepacking menjadi realistis dibandingkan jika ke Lombok atau bahkan Flores.

Hari pertama tujuan kami, adalah kampung Batja milik pak Iman Suligi yang berada di jl. Nusa  Indah-Jember, mengapa? karena kami berdua sudah menyiapkan beberapa buku untuk disumbangkan serta ingin berwisata ‘rohani’ dimana tempat tersebut mampu memberikan suntikan bagi perbaikan hati dan pengetahuan atas gemerlapnya kehidupan perkotaan, halah.

Dari Surabaya, kami berangkat hari sabtu jam 16.30 karena masih masuk kerja setengah hari. Perjalanan kami lalui dengan santai, gak ngebut maksudnya. Istirahat di Probolinggo kota, kita makan nasi goreng, jam menunjukkan 8 malem, wah berarti sudah 3,5 jam kita lalui. Yang paling menantang adalah perjalanan setelahnya, karena sudah malam kami musti melalui hutan yang sepi, yang terletak di klakah dan jatiroto. Sepanjang perjalanan, gak ada lampu jalan (padahal ini jalan nasional) jadi kami sambil berdoa di atas motor agar selamat sampai tujuan (karena takut ada perampok). Untungnya perjalanan kami lancar, kami sempatkan istirahat di SPBU JatiSrono karena kecapekan, dan jam 10 malam kami lanjutkan perjalanan, sampai di Jember kota sudah jam 12 malam, fiuh. Tapi penerimaan pak Iman sungguh membuat kami sungkan, karena harus melek menunggui kami datang he.

Bangun pagi setelah istirahat di salah satu guest house yang kami tempati, kami bergegas jalan-jalan di kompleks kampung batja. Sungguh luar biasa, perjuangan pak Iman hingga mampu mendirikan tempat yang asri ini. Dulunya tempat ini adalah tegalan kosong yang tak terawat, dengan ketekunan beliau yang mempunyai latar belakang seniman (perupa), tempat ini disulap menjadi sebuah oase di tengah perkampungan padat penduduk, dari depan sendiri terdapat perpustakaan dan ruang baca terbuka. Sisi selanjutnya ada tempat semacam ‘bar’ yang beratapkan rumbia serta banyak majalah dan koran yang digantung, sisi kanan nya ada dapur kering yang digunakan untuk tamu maupun keluarga untuk menikmati makan. Di bagian selanjutnya, ada mushola, kamar tidur serta taman. Uniknya, pak Iman sengaja membuat tempat privasi hanya khusus untuk kamar tidur dan kamar mandi, selebihnya merupakan akses umum. Paling belakang, adalah guest house dan halaman bermain, yang nantinya akan dijadikan juga sebagai panggung, bisa untuk pertunjukkan kesenian maupun film dan diskusi.

Pensiun dari aktivitas mengajar (sbg guru), pak Iman menjadi dosen serta mengasuh sebuah talkshow di RRI jember. Rumah sekarang yang dia tempati menjadi langganan berbagai komunitas, instansi untuk beraktivitas dan kunjungan dinas sampai media untuk meliput.  Dengan banyaknya kunjungan dari pihak luar, diharapkan semangat literasi dapat menular dan berkembang. Paling penting adalah memberikan anak-anak pengetahuan lebih mengenai bagaimana proses belajar berlangsung, yang tidak hanya diperoleh di kelas, tetapi juga bisa diperoleh dari lingkungan sekitar bahkan lebih asyik jika bisa berinteraksi dengan alam.

Semoga beliau selalu diberikan kesehatan dan rejeki untuk dapat menularkan semangat positif nya di dunia pendidikan 🙂

kampung batja (3)

kamar pak Iman
kamar pak Iman

kampung batja (8) kampung batja (9)

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑